TIM MUDA ENGLAND DAPATKAN TEPUK TANGAN

SBOBET INDONESIA – || BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 || – Tinggalkan saja bendera itu. Ambil satu gelas lagi. Lihatlah sekali lagi, jika Anda bisa, pada saat momen itu dari Kaliningrad hingga ke Moscow ketika tim England yang mumpuni ini bermain diatas diri mereka dan merubah musim panas melelahkan dan beracun di rumah menjadi sesuatu yang lain lagi.

Marilah kita hilangkan derita pada kali ini. Waktu empat dan setengah minggu England telah berada di dalam Piala Dunia layak mendapatkan yang lebih baik, bahkan setelah kekalahan skor 2-1 oleh Croatia di Moscow yang ditentukan jauh kedalam babak waktu tambahan.

Dan tidak ada air mata bahkan pada ingatan pencetakan angka di awal pertandingan itu ketika untuk beberapa saat pesawat terbang mundur di langit, para kucing menggonggong, kuda yang dinaiki para polisi mengeong dan England memang terlihat untuk menuju ke arah final Piala Dunia mereka di tanah negara asing.

Tim Gareth Southgate bermain hingga mencapai batas mereka di Luzhniki Stadium, seperti yang telah mereka lakukan ketika melawan Colombia dan ketika melawan Tunisia pada saat jutaan tahun yang lalu itu di tengah-tengah kabut yang menyelimuti Volgograd.

Pada akhirnya England menemukan lawan yang lebih superior di sini, sebuah tim dengan gigi yang lebih dalam dan dengan mania untuk bisa berlari langsung hingga waktu akhir. Croatia keluar seperti seorang kesatria pada paruh waktu kedua, keahlian dan kebiasaan pemenang dari Luka Modric dan Ivan Rakitic untuk masuk seperti sebuah tangan yang kuat terpasang di lengan yang tegas ketika waktu pertandingan terus berjalan.

Pada walah waktu babak tambahan itu adalah masalah untuk menghitung siapa yang masih bisa berlari. England terlihat sudah kandas, gosong. Harry Kane tertatih dengan jelas. Jordan Henderson terus mencoba melaju seperti seorang kapten kavaleri yang menunggangi kuda poni yang sekarat. Jesse Lingard dan Dele Alli menemukan energi dalam yang aneh, berlari dengan sisa-sisa.

Luzhniki stadium sudah terisi pada kapasitas penuh sejak kick off, lampu yang berada di bibir penutup atap memudar ke cahaya biru lembut. Kerumunan penonton telah ditelan oleh 10 ribu dans England yang berhasil sampai di sini dengan singgah dan bermalam di dalam bandara di bangku-bangkunya, dan yang dimana telah membuat kemah kecil dari selimut pada satu sisi, arak-arakan dari bendera yang berpola familier, sebuah tur Albion dari Exeter hingga ke Hartlepool.

Dengan lima menit yang telah berlalu di malam itu terasa seperti menuju ke arah tujuan mereka. Alli terkena pelanggaran di sudut kotak pinalti. Kieran Trippier telah cukup dekat sepanjang waktu turnamen itu. Ketika bola ditendang dan membelik dan melesat ke dalam net, suasana udara seperti melesat keluar menembus atap, kemudian melesat kembali ke bawah ketika para fans England berpelukan dan bertubrukan dan bergulung-gulung antara satu dengan yang lain di dalam kegembiraan seperti anak anjing.

Untuk selama waktu 20 menit itu terasa seperti pertandingan milik England. Pada daerah touchline Gareth Southgate terlihat tenang, berjalan kesana kemari mengenakan rompinya, mengusap-usap janggutnya yang sedikit berjenggot dan sekali lagi mencerminkan musang yang cerdas di kartun yang mengemudikan mobil kuno dan bermain biola.

Raheem Sterling telah berlari cukup keras namun kurang memiliki tekanan. Harry Kane melewatkan sebuah kesempatan yang biasanya dia akan melahapnya seperti seorang pria yang kelaparan. Dan pada paruh waktu dan skor 1-0 keunggulan untuk England memang benar-benar terlihat seperti sudah mengganjalkan satu kaki ke arah pintu untuk sebuah kedatangan kembali di stadium ini pada hari Minggu.

Kecuali mereka tidak memulai hal itu lagi setelah waktu istirahat berakhir. Croatia tiba-tiba yang mengendalikan permainan itu, menekan England ke belakang ke sisi pertahanan mereka, menemukan sebuah lubang yang sebelumnya telah disembunyikan. Gol penyama kedudukan datang dari arah kanan, Ivan Perisic memasukan sebuah tendangan lambung diatas sundulan dari Kyle Walker untuk memantulkan bola itu kedalam gawang.

Lalu berlanjutlah kita ke dalam waktu tambahan yang penuh memar dan melelahkan. Gol itu terasa seperti sudah akan datang, bahkan sebelum Mario Mandzukic mulai lepas dari belakang penjagaan John Stones dan menyelesaikannya dengan cerdas.

Dan jadi: music keluar berbunyi. Musim panas Piala Dunia England sudah berakhir. Bagaimana kami akan mengingat empat minggu itu yang kami habiskan menonton Harry dan Dele dari debu di Samara hingga keanehan yang sedikit terpisah dari Kaliningrad?

Di atas semua itu, ini semua telah seperti sebuah mimpi, sebuah pelarian yang memakan segalanya. Di dalam waktu yang sulit di rumah, sepak bola telah terasa seperti pelukan yang hangat, seperti sebuah serbuan kenikmatan kimiawi, seperti sebuah malam terbaik yang Anda dapatkan setelah bertahun-tahun.

Di sana akan, tentu saja, ada keinginan untuk memberikan semua hal ini sebuah arti yang lebih luas lagi. Itu telah menjadi fitur aneh dalam perjalanan England di dalam turnamen ini dimana sudah banyak yang bergantung kedalam ide yang menjelaskan tentang dimensi moral terhadap sebuah kemenangan, sebuah gagasan yang dimana England telah memenangkan pertandingan karena metode mereka itu adalah benar, hati yang mereka miliki itu murni, dan tidak, katakan saja, karena Mateus Uribe gagal memasukkan tendangan pinaltinya hanya sejarak dua inchi lebih kebawah lagi di Spartak Stadium.

Olah raga itu adalah seekor Chimera, itu selalu menyeret banyak kisah bersamanya dalam jalurnya. Para juara seringkali adalah blackguard. Para mereka yang kalah seringkali baik. Olah raga dan semua kisahnya hanyalah sebuah dekorasi, sebuah foto yang terpajang di dinding.

Namun itu masih bisa memberikan semacam penyemangat. Itu cukup sulit untuk tidak merasakan sebagaian dari antusiasme untuk tim ini yang datang dari sebuah perasaan kelegaan. Banyak masyarakat pemuda Inggris yang telah diberitahu beberapa tahun yang lalu bahwa waktu itu adalah waktu yang sulit, bahwa kehidupan mereka telah diatur kepada satu arah dan hal itu adalah selalu, selalu saja masa lalu yang lebih baik.

Melihat tim England yang ini – dan iya, tentu saja ini hanyalah sebuah tim sepak bola – telah nampak untuk meberikan skrip yang sedikit lebih berbeda. Sekelompok pemain muda yang tidak terkenal telah pergi lebih jauh dari mereka sebelumnya yang jelas terlihat lebih berbakat, lebih keemasan, lebih autentik, berhasil menemukan jalan melalui kerja sama tim dan energi dan sebuah penolakan untuk mengalah.

Itu sangat diharpkan untuk bisa menyaksikan hal ini, untuk melihat kepada Alli atau Harry Maguire atau Jordan Pickford untuk mengatakan, yah, orang-orang mengatakan kepada mereka bahwa mereka mungkin juga tidak bisa melakukannya.

Sepak bola itu bukan kehidupan nyata. Itu adalah dunia yang terpisah yang dipenuhi dengan emosi yang berlebihan dan tanda nada besar gendut basah dari sebuah drama, selalu memaksa mencoba untuk menjadi jauh lebih besar dan penting dari dirinya yang sebenarnya. Namun itu bisa memberikan sedikit inspirasi di sepanjang perjalanannya, sebuah kisah lagi dengan jenis yang lain. England di dalam semi final, dengan tim yang digemari dan dipimpin oleh Gareth yang hebat, telah dengan pasti berakhir seperti ini. Kali ini tidak ada air mata. Di sana masih ada St Petersburg pada hari Sabtu yang akan datang. Namun mereka itu, pada akhirnya, benar-benar akan pulang kerumah.

Tags: