Chat with us, powered by LiveChat

TIM ENGLAND MELEPASKAN BEBAN LAMA

Agen Sbobet – || BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 || – Itu adalah pada waktu seperti saat ini, jika Anda akan melihat kebiasaan berdiri milik Henning Wehn, dimana Anda mungkin bisa mengingat sebagian dari aksinya, yang mungkin menjadi satu-satunya orang Jerman di lintasan komedi Inggris, yang akan keluar dari panggung dengan replika trofi Piala Dunia. Kembali ke Jerman, Wehn mungkin akan menjelaskan, semua orang memiliki satu. Dan kemudian dia akan mengangkatnya ke arah penonton, menggoda mereka, menanyakan apakah mereka mengerti betapa enaknya untuk bisa memegang, memeluk trofi itu dekat dengan dadanya. Ada yang ingin coba memegang? “Ini,” kata dia, “adalah jarak terdekat yang bisa Anda capai”

Mungkin itu masih seperti itu dan England akan menemukan cara untuk menata sebuah cara keluar dari Piala Dinia yang lebih dengan menjaga cara yang biasa dilihat oleh tim itu. Pada waktu, untuk contohnya, tahun 2002 ketika Guus Hiddink memimpin Korea Selatan ke semi final dan menuduh sang tim Eropa untuk menjadi terlalu defensif dan terlalu takut, mencatat bahwa “England adalah yang terburuk”. Atau kejadian, yang mungkin, ketika Adriana Sklenarikova, model Wonderbra dari Slovakia, mengatakan soal opininya. “Tony Blair adalah pria yang cukup tampan namun sayangnya dia bukan seorang baravado,” ujar dia. “Sama dengan tim sepak bola England.”

Dan sama saja di sana sebuah sekenario lain untuk dipertimbangkan ketika sekarang Piala Dunia telah dibuka dengan sangat mengundang dan itu memungkinkan untuk membicarakan soal kesempatan England untuk mencapai final tanpa lagi takut dianggap sebagai hal yang sembrono. Kesempatan seperti ini adalah hal yang langka. Tentu saja orang-orang yang relevan akan bertanya apakah kita bisa mencapainya ketika pemenang dari pertandingan hari Sabtu melawan Swedia akan bertemu dengan Russia ataukah Croatia untuk posisi di final. Tentu saja itu seharusnya diperbolehkan untuk mengatakan bahwa England adalah penantang asli tanpa mengundang jenis pandangan yang biasanya akan menandakan itu mungkin saatnya untuk merasakan kekurangan pada dirimu.

Pada kasarnya, tidak semua orang ingin untuk mengakui poin tersebut. Hakan Mild, mantan pemain internasionl Swedia, adalah salah satunya. Mild, mungkin bisa diingat, adalah salah satu korban dari Paul Scholes pada pertandingan di tahun 1999 ketika pemain Manchester United itu menjadi pemain internasional England yang pertama untuk dikirim keluar di Wembley. Mungkin dia masih memiliki dendam. “Mereka adalah anak manja yang mendapatkan banyak uang,” ujar dia. “Mereka tidak memiliki kekurangan [rasa lapar] yang dibutuhkan. Itu bisa saja pengambilan yang lebih baik. Mereka pikir mereka sangat bagus padahal sebenarnya tidak.”

Itu tidak selalu menjadi hal yang mudah untuk mempertahankan sepak bola England dari tuduhan sikap sombong – tidak ketika Football Association [Asosiasi Sepak Bola Dunia] tetap mengawasi ketat di St George’s Park untuk menghitung hingga detik saat hingga England sepertinya akan memenangkan Piala Dunia tahun 2022 – namun Mild melewatkan poin itu dengan buruk jika dia mencoba untuk menggambarkan lawan Swedia sebagai seorang prima dona.

Pada hari Selasa, sebelum pertandingan melawan Colombia, pembicaran tim Gareth Southgate berfokus kepada latar belakang dari para pemainnya dan hal soal persamaan yang mereka miliki. Latar belakan Jordan Pickford termasuk pada tugas pinjaman untuk Darlington ketika mereka terkena relegasi dari Conference, di ikuti oleh sebuah tugas di Alfreton Town. Jamie Vardy memiliki kisahnya dimulai dari Fleetwood Town. Harry Maguire pernah berada di League One dengan Sheffield United. Dele Alli mengalami liga yang lebih rendah dengan MK Dons dan tugas pinjaman Harry Kane terdiri dari Leyton Orient dan Millwall. Dan seterusnya dan seterusnya. Mereka ini mungkin adalah orang yang cukup kaya namun banyak dari para pemain ini memulai dari bawah hingga bisa mencapai kesini. Ini bukan sebuah lingkungan yang bebas dari ego, dari cara apapun, namun di sana juga bukan sikap kepala besar yang ada di skuad England yang lain. Dan untuk mengatakan mereka kurang memiliki rasa lapar itu, jujur saja, cukup absurd.

Southgate menyimpulkan hal itu dengan rapi ketika dia menjelaskan alasan untuk pembicaraan timnya itu dan, khususnya, kenapa latar belakang para pemain sangat penting secara fundamental pada kesuksesan England. “Saya berbicara kepada mereka tentang bagaimana mereka semua telah memulai dan pada klub yang berebeda,” ujar dia. “Anda harus cerdas. Anda harus memperhatikan secara taktis karena itulah yang membuat perbedaan di dalam pertandingan besar. Namun mereka juga memiliki sebuah rasa malu soal hal itu. Kami bekerja keras untuk satu sama lain, hingga kami tidak membawa siapapun. Mereka semua telah siap untuk mengisi dan menggali masuk untuk satu sama lain. Saya tahu itu adalah kualitas yang sedikit kuno namun kami tidak punya hak untuk bisa berjalan-jalan di lapangan. Kami bermain dengan karakter dan Saya suka hal itu dari mereka.”

Hal yang paling penting adalah mengetahui bagaimana untuk mengatasi sebuah sepak bola namun Southgate membuat poin yang bagus lainnya ketika dia membicarakan soal set pemain saat ini tidak dibebani dengan kegagalan dan stigma dari tim England yang sebelumnya. Mungkin kita, di dalam media, bisa merasa bersalah karena terlalu sering melihat kebelakang. Pickford hanya terlihat kagum ketika seseorang menanyakan apakah kemenangan adu pinalti milik England pasti memiliki arti ekstra secara pribadi bagi Southgate. “Apa maksud Anda?” tanya sang penjaga gawang tersebut. Karena dia melewatkan satu pada waktu dulu? Pickford (berusia dua tahun pada saat itu): “Tahun berapa waktu itu, 96?”

Referensi Southgate pada M.A.S.H ketika dia menyembutkan jumlah pemain yang memerlukan perawatan adalah pengingat yang lain dari kaburnya sang waktu. “Saya tidak tahu apa hal itu,” ujar Alli. Itu adalah generasi yang berbeda, sebagian besar kasusnya adalah anak-anak dari abad ke 21. Seperti yang terus dikatakan oleh Southgate, itu adalah kelompok pemain yang paling kurang berpengalaman di dalam kompetisi itu dan, untuk sebagian besarnya, mereka tidak terlalu perduli jika para pendahulu mereka telah kalah dalam enam kali dari tujuh adu pinalti yang mereka lakukan.

Penendang pinalti milik England memulai latihan mereka sebelum pertandingan persahabatan melawan Netherland dan Italia pada bulan Meret dan akan terus melakukan hal yang sama di setiap sesi latihan mereka selama mereka masih ada di dalam turnamen ini. Seringkali rutinitas itu berarti mengatakan sang penjaga gawang dimana mereka akan mengarahkan tendangan mereka, ide bahwa satu satunya cara untuk mencetak angka adalah untuk menciptakan apa yang dideskripsikan oleh Marcus Rashford sebagai “pinalti yang sempurna”.

Southgate telah menemukan cara lain untuk menempatkan para pemain di dalam tekanan dengan cara mengatur sebuah kompetisi yang dimana para pemain akan meneriaki dan mengejek pemain lainnya untuk memecahkan konsentrasi mereka. Namun disamping sisi lelucon tersebut, itu telah menjadi tatanan yang lebih profesional daripada yang biasanya. Setiap pemain setuju untuk melakukan tes psikometri unutk membantu Southgate membuat daftarnya, dari satu hingga dua puluh tiga. FA bahkan menugaskan sebuah pembelajaran untuk melihat kepada kegagalan mereka yang lalu dan penemuan yang dihasilkan mengungkapkan bahwa pemain England memerlukan waktu yang lebih sedikit dengan tendangan mereka dibandingakan dengan negara lain. Pada hari Selasa tidak ada yang terburu-buru.

Kebersamaan yang dimiliki oleh skuad England bisa disimpulkan dalam pemandangan dari sang penjaga gawang cadangan, Jack Butland dan Nick Pope, berkumpul bersama di ruang televisi untuk menonton, yang mereka dengan jelas terlihat bersemangat, tayangan ulang dari penyelamatan milik Pickford. Itu digambarkan dengan sebuah rangkulan diantara Jordan Henderson, salah satu pendang pinlati England yang tidak mencetak angka, dan Pickword – “Ya Tuhan, Aku sudah membantumu di luar sana, nak,” ujar sang penjaga gawang itu – lagi dan lagi, bahkan jika itu hanyalah sebuah hal kecil yang konyol, seperti dengan cara John Stones mengendap-endap dibelakan Raheem Sterling, ditengah sebuah wawancara, untuk menyentil telingannya.

Sterling sedang berbicara kepada sekumpulan penulis sepak bola tentang momen ketika paruh waktu saat salah satu pelatih Colombia mendatangi dirinya. “Disana terdapat beberapa waktu ketika Saya pergi untuk istirahat minum dan dia selalu mengatakan sesuatu. Saya hanya ingat berlari kedalam dan dia melangkah tepat di didepan Saya.”

Pada satu titik Yerry Mina, pemain terbesar Colombia, berakhir berada di belakang Sterling – “lihatlah saja kekuatnnya!” canda Sterling – dan disana terdapat beberapa hal lain di luar kamera. “Disana terdapat salah satu dari anggota mereka yang meremas tulang rusuk saya. Saya tidak tahu bagaimana itu bisa mungkin namun dia bisa menggengam tulang rusuk Saya.” Dan Sterling kemudian tertawa kembali. Southgate, kata dia, sudah secara tersurat memperingatkan para pemainnya untuk tidak terprovokasi dan England, untuk seorang pria, telah mengikuti instruksi tersebut.

Tags: