Chat with us, powered by LiveChat

RUSSIA MENGELIMINASI SPANYOL

SinarSbobet – || BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 || – Ketika saat itu tiba, emosi memenuhi seluruh isi stadium Luzhniki itu, 144 juta orang Russia dan banyak lagi orang diseluruh globe yang melihat ke arah dirinya, Igor Akinfeev terbang ke satu arah dan bola itu terbang ke alah lainnya. Namun ketika itu terlihat dia mungkin akan kalah, entah bagaimana dia, seperti tim miliknya, menemukan sebuah jalan menuju kemenangan.

Kaki kirinya berayun untuk menendang pinalti dari Iago Aspas menjauh dan membawa sang tuan rumah menuju ke perempat final di dalam Piala Dunia, sebuah skor 1-1 hasil seri membawa ke skor 4-3 pada adu pinalti yang membuat kaos putih membanjiri seluruh lapangan sedangkan di bangku mereka meluap-luap, merayakan kesuksesan yang paling tidak bisa dipercaya, mungkin yang paling signifikan yang pernah mereka dapatkan.

Itu telah dikatakan bahwa mereka adalah sebuah tim yang paling buruk di dalam sejarah Russia, namun mereka masih berada di sini, di dalam turnamen mereka. Itu telah dikatakan bahwa lawan emreka adalah sebuah tim yang terbaik di dalam sejarah Spanyol, namun itu tidak lagi. Ini adalah pertandingan internasional terakhir bagi Andres Iniesta – sebuah “hari paling menyedihkan di dalam karir Saya” ujar dia – dan yang lain akan mengikuti pria yang mencetak gol kemenangan pada tahun 2010, yang terakhir dari generasi emas milik mereka. Pada puncaknya itu telah menjadi malam yang panjang dan epik, rasa letih dan kegelisahan mempersiapkan menghadapi sebuah ledakan. Untuk bertahan adalah untuk menang, seperti yang terkenal diucapkan oleh Juan Negrin. Russia telah bertahan, baiklah kalau begitu.

Spanyol mengoper bola itu sebanyak 1107 kali namun mereka tidak bisa mengoper melewati Russia. Fernando Hierro, manajer kebetulan yang mengambil alih tim itu sehari sebelum Piala Dunia dimulai, berbicara soal “garis jelas” yang ada dan Spanyol telah berada cukup dekat dengan akhir itu. Ketika itu datang kepada adu pinalti tersebut, David de Gea bisa menyentuh tiga dari empat tendangan yang dilakukan namun tidak bisa menyelamatkan satupun dari itu. Walau begitu mereka melihat kebelakang pada tiga minggu ini di Russia, Spanyol akan mencerminkan bahwa mereka sudah jatuh kebawah, dan itu semua dimulai dengan tidak adanya pelatih dan didalam sebuah krisis.

Itu sekarang terasa seperti sudah dulu sekali, namun mereka belum berada di Russia untuk waktu yang lama. Sudah tentu tidak dalam waktu yang cukup lama.

“Kamu merasakan empati dengan para fans itu, kami merasakan hal yang sama,” ujar Hierro. “Pesan terakhir Saya kepada para pemain adalah walau apapun yang terjadi, setelah pertandingan ketika kami kembali ke ruang ganti kami harus bisa saling memandang satu sama lain ke arah mata mereka dan kami bisa, semua dari kami.”

Mereka sadar mereka telah tampil dengan kurang baik, walau begitu, khususnya di sini. Itu tidak pernah mudah untuk melewati sebuah pihak yang ultra defensif – dan para orang Russia mengakui mereka memang berharap untuk sebuah adu pinalti – namun untuk waktu yang lama, pihak Spanyol jarang terlihat akan seperti itu.

Dikatakan terus terang, pertandingan ini sebagian besar sangat mengerikan. Di sana terdapat gol bunuh diri dan sebuah pinalti dan kemudian di sana tidak banyak terjadi apapun hingga, pada akhirnya, di sana terdapat sembilan kali pinalti lagi, adu pinalti pertama pada turnamen itu. Salah satu darinya, pinalti Russia terakhir, dicetak oleh Denis Cheryshev, dilakukan oleh Spanyol; dua telah diselamatkan oleh Akinfeev, Koke dan Aspas meleset. Itu adalah telah cukup aneh, Piala Dunia yang aneh bagi Spanyol.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 7.45 pm ketika mereka pada akhirnya tereliminasi. Itu telah baru setelah pukul 5.30 pm ketika sebuah gelombang Meksiko mulai untuk melakukan perjalan mereka mengelilingi stadium Luzhniki, namun ini bukanlah sebuah selebrasi, dan sudah jelas bukan seperti satu yang akan mengikuti setelah itu. Itu adalah malah lahir dari sebuah kebosanan, bahkan mungkin dari sebuah pengunduran. Russia telah mengikuti, rencana mereka untuk bertahan terluka dari gol bunuh diri yang datang setelah sebelas menit, dan semua harapan untuk sebuah posisi di perempat final sepertinya mulai lepas dengan cepat menjauh. Ketika gelombang itu berputar mengelili bangku, di depan hadapan mereka bola juga mengelilingi di dalam lapangan. Sedikit lebih lambat. Dan selalu berada di kaki pemain Spanyol.

Dan itu menyimpulkan semuanya. Walau begitu hal tersebut untuk sementara telah berubah – dengan gelombang itu sendiri. Paling pentingny, itu berubah tepat cukup lama untuk menempatkan Russia setingkat sebelum mereka kembali ke sikap defensif mereka. Seperti telah tersengat oleh gelombang itu, tiba-tiba Russia menendang tendangan lambung jauh di lapangan yang membuat Artem Dzyuba melompat bersama dengan Sergio Ramos, mengalahkan dirinya pada bola itu dan Russia sedang berlari, Roman Zobnin membelokkan sebuah tendangan hanya untuk keluar melebar. Sebuah peringatan bahwa, walau kelihatannya seperti itu, disini sedang ada pertandingan yang masih berlangsung. Sesuatu telah bergerak. Disana terdapat sebuah maksud sekarang dan segera disana bahkan terdapat sebuah penyama kedudukan.

Aleksandr Samedov mengambil sebuah tendangan sudut dan Dzyuba melompati lagi untuk menyundul bola. Gerard Pique melompat, tangan terentang diatas kepalanya, mengundang masalah. Bola itu memantul dari dirinya dan Bjorn Kuipers menunjuk ke arah titik, yang dimana Dzyuba berhasil menyelesaikannya dengan tenang.

Itu adalah tendangan ke arah target kedua dari Russia. Yang dimana, menceritakan, ada dua lebih banyak daripada yang dimiliki oleh Spanyol. Diego Costa hampir belum menyentuh bola, kedua area pinalti disana gampangnya adalah wilayah yang tidak terjamah. Stadium Luzhniki telah dinyanyikan kedalam sebuah tidur sore yang hangat, secara kasat mata tidak ada yang patut dicatat selain beberapa sentuhan yang kadang dilakukan oleh Isco. Mungkin saja keunggulan awal milik Spanyol adalah bagian dari alasan mengapa mereka membiarkan itu melewati mereka: perasaan bahwa disana tidak ada bahaya adalah tepatnya malah bahaya itu sendiri.

Mereka sekarang tahu, namun tidak bisa beraksi dengan tepat. Dan kemudian hal itu berlanjut, menyedot kehidupan dari dalam semua orang hingga waktu bergerak menuju sebuah drama, jurang dalam yang meminta sebuah tindakan cepat dari mereka. Spanyol mengirimkan masuk Aspas, yang ahli dalam mengambil kecepatan, sang penyelamat ketika melawan Morocco, dan dia dengan cepat ikut terlibat, namun sebuah takdir sedih datang menanti. Dia dengan cerdik memberikan ruang untuk Iniesta dengan kontrol dada, tendangan itu diselamatkan oleh Akinfeev. Dari pantulan itu Aspas menendang yang sayangnya keluar melebar.

Kesempatan yang paling baik, jika hal tersebut bisa dibilang begitu, jatuh kepada Fedor Smolov, yang menendang melebar keluar. Namun sebagian besar para fans hanya menginginkan peluit akhir pertandingan berbunyi, bahkan jika mereka tahu itu hanya akan membawa 30 menit lagi yang harus mereka jalani – bagi semua orang disana. Walau begitu hadiah yang menanti pada akhir waktu tambahan sangatlah besar.

Rodrigo, dikirim masuk pada saat waktu tambahan, bergerak dengan tajam dan berlari kencang menuju ke sisi kanan, memaksakan sebuah penyelamatan bagus dari Afinkeev. Ikut masuk, Dani Carvajal, tendangannya ditepis. Untuk pertama kalinya keadaan disana mulai menjadi kacau. Hujan pun mulai turun, rasa letih mulai menrayap masuk dan Spanyol meminta VAR ketika Ramos jatuh, diadakan ketika dia jatuh di lapangan. Diatas di ruangan VAR itu, mereka tidak melihat ada yang harus dicatat. Tidak seperti yang dipikirkan oleh yang lainnya di dalam stadium, pada saat itu. Target Russia mulai mendekat, walau begitu pinalti hampir ditolak oleh ROdrigo 12 detik setelah pertandingan ini mencapai menit ke 120. Dan kemudian, pada akhirnya, sang wasit membunyikan peluit akhir pertandingan yang mereka harapkan. Dan Akinfeev pun terbang.