Chat with us, powered by LiveChat

PRATINJAU LEICESTER CITY

AGEN SBOBET -|| BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 ||-

Prediksi posisi oleh penulis Guardian: Posisi ke 9

Posisi pada musim lalu: posisi ke 9

Kemungkinan untuk memenangkan liga (via Oddschecker): 250-1

Banyak para pencatat menulis Claude Puels sebagai yang favorit untuk menjadi manajer Liga Premier pertama yang akan keluar dari pintu pada musim ini, sebuah rangking yang bisa diambil sebagai sesuatu yang lain untuk dikomplain oleh Jose Mourinho. Jadi ketika Leicester kick off pada musim yang baru di Old Trafford pada hari Jum’at, taruhan yang ada pasti akan tidak biasa tinggi. Itu tidak mengatakan bahwa kedua pria itu pasti akan dipecat setelah satu pertandingan di dalam perjuangan ini namun keduanya sedang berada dalam satu tekanan yang sama untuk memulai musim ini dengan baik – pada khususnya Puel.

Rezim Leicester menunjukkan pada tahun lalu bahwa mereka tidak takut untuk memotong manajer mereka keluar jika suah akhir yang jelek pada sebuah musim merembes pada permulaan musim yang selanjutnya (sebuah variasi dari tema sebelumnya, dimana Claudio Ranieri telah dipotong keluar setelah klimaks yang luar biasa menghilang pada sebuah permulaan yang sangat buruk). Mereka memotong hubungan dengan Craig Shakespeare hanya setelah lima pertandingan liga pada musim lalu, membuat tidak ada kemungkinan untuk fakta bahwa pertandingan tersebut termasuk pertemuan dengan Arsenal, Chelsea dan Manchester United. Itu adalah gerakan yang benar. Masalah yang terus ada menunjukkan tidak adanya perkembangan yang telah dibuat atau akan dibuat. Pelajaran yang ada bagi Puel adalah dia memerlukan tim miliknya untuk menunjukkan dengan cepat bahwa mereka telah menjadi lebih nyaman dengan metoda miliknya daripada yang telah terlihat di paruh kedua pada musim lalu, jika tidak dia mungkin akan diundang untuk mengucapkan kata selamat tinggalnya dan pergi.

Jika saran itu tidak datang dari sang pemilik, maka itu bisa saja datang dari para pemain dan sudah pasti dari para fans, banyak yang etlah menghabiskan beberapa bulan terakhir pada musim yang lalu menjadi kebingungan atau mengejek tim yang menghasilkan penampilan dengan tahap yang buruk, pelan, lembek, bocor dan tidak kompeten, penyelesaian pada posisi ke sembilan mereka memang mengutuk pada keributan dari bawah itu.

Leicester telah pada awalnya cukup mengesankan di bahwa Puel dan menunjukkan tanda bahwa mereka berada dalam jalur yang tepat untuk berkembang menjadi lebih dari sekedar pihak yang menyerang balik, namun kemudian mereka kehilangan jalan mereka dan menjadi lebih kurang dari jumlah bagian mereka yang rusak. Cidera tidak membantu atau juga mereka tidak menjelaskan dengan lengkap kenapa Jamie Vardy sering kali terisolasi di posisi depan dan pertahanan mereka sangat berlubang-lubang, dengan Leicester telah kebobolan 60 gol pada perjuangan itu, lebih dari Swansea dan West Brom yang terelegasi. Jadi, apa yang telah berubah?

Yang paling jelas, Riyad Mahrez telah pergi. Itu tidak akan menjadi pukulan yang sama merusaknya dengan yang banyak ditakutkan jika pemain internasional Algerian yang lainnya – Rachid Ghezzal, yang bergabung dari Monaco pada hari Minggu untuk biaya sebesar 12 juta Pounds – yang terintegrasi dengan cepat ke dalam Leicester dan Liga Premier itu. Pemain sayap berusia 26 tahun itu bisa menjadi sangat tajam ketika dalam kondisi yang baik namun jarang menjadi konsisten di dalam karirnya hingga saat ini. Dia tidak akan mendapat beban untuk mengganti kreativitas Mahrez sendirian.

Bagian dari tugas Puel adalah untuk memperbaharui tim Leicester dengan menggabungkan ke dalam para pemain muda, yang dimana dia telah memiliki catatan kuat soal mencapai hal itu di sepanjang karirnya. Oleh kerena itu, Demarai Gray dan Fousseni Diabate bisa merasa percaya diri untuk muncul lebih sering lagi daripada musim yang lalu. Di sana mungkin ada juga saat ketika keduanya akan memuali di dalam sebuah event di mana sang manajer memilih untuk mengeluarkan Marc Albrighton dari salah satu posisi sayap. Terlepas dari siapapun yang bermain di sisi belakang, tugas kreatif ketua Leicester terlihat sudah siap untuk dilakukan oleh sang pemuda yang sepertinya akan diturunkan secara sentral di dalam formasi 4-2-3-1 yang dipilih Puel: James Maddison.

Pemain berusia 21 tahun yang dikontrak dari Norwich City pada bulan Juni setelah sebuah musim yang luar biasa di dalam Kejuaraan itu telah berkilau pada saat masa pra musim sebagai play maker sentral dan terlihat untuk memiliki semua teknik dan kecerdikan untuk merajut bersama serangan Leicester dan meningkatkan servis ke Vardy. Dia akan beroperasi di ruang yang sama dengan dimana Shinji Okazaki yang meredup dulu biasa berjaya, namun di dalam cara yang berbeda ketika Leicester menargetkan untuk bermain lebih dengan bolanya. Leicester bisa jadi sangat mengandalkan pada Maddison, khususnya jika Adrien Silva tidak berkembang. Itu mengarahkan kepada pertanyaan kunci yang lainnya: apakah skuad Leicester itu baik terlalu banyak dan juga terlalu sedikit?

Sudah jelas mereka memiliki terlalu banyak pemain – seperti misal Leonardo Ulloa, Nampalys Mendy dan Islam Slimani yang mungkin tidak akan mencapai 25 pemain di dalam skuad Liga Premier jika mereka masih ada di dalam klub itu ketika jendela transfer ditutup namun kualitas dari skuad itu masih patut dipertanyakan jika penandatanganan lebih lanjut tidak dilakukan pada minggu ini.

Mempertimbangkan pertahanan di tengah, untuk contohnya, Harry Maguire dan Jonny Evans seharusnya terbukti menjadi sebuah kerjasama yang bagus namun, ketika mereka sedang tidak ada – seperti yang sudah diduga menjadi masalahnya untuk perjalanan ke Old Trafford, untuk pemain pemulai – maka Puel akan merasa wajib untuk menoleh kepada Wes Morgan dan Yohan Benalouane. Morgan telah tampil sebagai pemain yang bagus dan kapten untuk klub itu namun tahun-tahun terbaiknya telah berlalu; Benalouane, pada usia 31 tahun, lebih mudah dan sedikit lebih lincah daripada Morgan namun tidak stabil. Mungkin Puel akan menempatkan rasa kepercayaannya pada bakat yang baru muncul di sini, juga, dan memberikan permulaan pada pemuda berusia 19 tahun Darnell Johnson, yang terlihat belum mencapai waktunya pada saat pra musim?

Sang manajer melakukan hal yang sama pada musim lalu ketika dia mempromosikan Ben Chilwell menjadi pilihan pertama bek kiri diatas dari Chirstian Fuchs. Chilwell berkontribusi dengan baik pada serangan namun menunjukkan dia masih butuh banyak belajar ketika itu soal pertahanan. Di posisi bek kanan, sementara itu, Puel telah memilih sebuah solusi chip biru, Leicester menghabiskan sejumlah 20 juta Pounds pada musim panas ini untuk membeli sang pemain internasional Portugis Ricardo Pereira dari Porto. Sebuah pemain yang cepat dan bersemangat yang dimana telah berjaya di bawah Puel ketika berada di Nice, Pereira seharusnya terbukti menjadi rekrutmen yang bagus yang kedatangannya mendorong Danny Simpson ke pinggir. Namun Leicester masih ada pada cidera atau pemberhentian untuk mengimprovisasi dengan memainkan Daniel Amartey di posisi bek kanan.

Setidaknya Leicester akan memiliki kekuatan di dalam kedalaman pada gol, dimana kedatangan oleh Danny Ward dari Liverpool mengurangi rasa ketergantungan terhadap Kasper Scmeichel, yang berarti bahwa ketidak adaan atau bahkan kepergian dari Dane mungkin tidak akan begitu mengacaukan. Sementara itu, bahkan ketergantungan di lini depan pada Vardy mungkin akan berkurang jika pemain berusia 21 tahun Kelechi Iheanacho berkembang seperti yang diharapkan mengikuti sebuah musim pertama yang diaman dia terlihat terbatas, tajam namun tidak dinamis. Di sana terdapat banyak hal yang “jika” ketika Leicester mencoba untuk bertransisi dari tim pemenang gelar mereka ke dalam sebuah seragam yang lebih segar dan lebih seimbang.

Pada saat terkuat mereka, Leicester bisa menyombongkan sebuah punggung yang terlihat sangat luar biasa: Schmeichel di gawang, Maguire dan Evans di pertahanan tengah, Wilfred Ndidi yang luar biasa tertambat di posisi gelandang, Maddison mengatur benang kendali dan Vardy memotong pertahanan musuh. Di sekeliling pinggiran akan terdapat pemuda yang aktif dan lincah. Bersama mereka bisa membentuk sebuah unit yang menarik dan kuat. Itu adalah teori yang ada. Namun Puel tidak bisa membuat para pemainnya untuk mempraktekan hal itu dengan cukup pada musim yang lalu dan pada akhir musim itu terlihat hal itu telah gagal. Jika sang manajer berhasil di dalam menginspirasikan penampilan yang lebih baik mengikuti beberapa tambahan musim panas yang bagus dan waktu yang lebih banyak dengan skuadnya (gangguan dari Piala Dunia itu tidak bisa tertahankan) – dan walau dengan hilangnya Mahrez – maka dia akan layak untuk mendapatkan pujian besar. Namun dari cara Leicester terpincang melalui saat bulan terakhir dari musim yang lalu berarti bahwa, jika di sana hanya terdapat sedikit bukti pada perkembangan di dalam bulan pembukaan pada musim kali ini, Puel mungkin akan diminta untuk hengkang.

Tags: