Chat with us, powered by LiveChat

PERANCIS MENYEGEL KEMENANGAN PIALA DUNIA

 

 

AGEN SBOBET TERPERCAYA -|| BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 ||-Ketika pukulan yang menentukan itu sudah tiba, seluruh skuad itu saling bertumpukan pada satu sama lain di dalam sebuah perayaan kemenangan. Hugo Loris, sang penjaga gawang, harus berlari sepanjang lapangan untuk bergabung dengan perayaan itu. Semua pemain pengganti meleparkan diri mereka ke dalam tumpukan tangan dan kaki itu. Di sana bahkan terdapat anggota dari staff belakang ruangan yang sedang berpikir untuk ikut bergabung, dan siapa yang bisa menyalahkan mereka? Perancis sedang dalam perjalanan untuk memenangkan sebuah Piala Dunia dan sebuah pesta yang sedang berlangsung di belakang gawang dimana bendera tiga warna sedang berkibar.

Itu adalah beberapa momen ketika semua orang tahu bahwa tidak ada pihak – tidak yang bahkan dengan keteguhan dan kekuatan Croatia dari ketahanan mereka – bisa menemukan jalan kembali dari itu. Paul Pogba dan Kylian Mbappe telah mencetak dengan waktu yang cepat dan edisi selanjutnya dari kaus nasional Perancis sekarang akan memiliki dua bintang, bukannya hanya satu saja, diatas gambar ayam.

Didier Deschamps telah menjadi orang ketiga yang satu-satunya di dalam sejarah telah memenangkan Piala Dunia sebagai seorang pemain dan seorang manajer, berdiri bersama dengan dua raksasa di dalam permainan itu dalam Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer. Mbappe adalah seorang juara dunia di usia 19 tahun, remaja pertama yang telah mencetak angka di pertandingan final Piala Dunia sejak Pele pada tahun 1958, dan di sana terdapat pembandangan yang gembira sekali setelah peluit terakhir berbunyi ketika para pemain memberikan sang manajer mereka pengangkatan ketika hujan mulai turun dan trofi telah diangkat dengan latar belakang petir sedang menyambar di langit.

Kesalahan dari Lloris yang memperbolehkan Mario Mandzukic untuk mengambil gol kembali untuk Croatia tidak begitu berpengaruh besar ada akhirnya dan Perancis adalah juara yang layak dengan mengingat penampilan mereka yang meyakinkan pada sepanjang turnamen ini. Tim manapun yang mencetak empat angka di pertandingan final telah berhak untuk merasa bahwa mereka telah menang dengan gaya dan sepertinya tidak ada yang bermasalah dengan hal itu, di dalam penungguan yang lama akan ditunjukkannya trofi tersebut, satu-satunya orang yang terlindung dari hujan itu hanyalah Vladimir Putin. Salut bagi pria dengan setelah yang tiba-tiba muncul dengan sebuah payung untuk menjaga sang presiden tetap kering ketika Gianni Infantino dan anggota kehormatan Fifa yang lainnya menjadi basah kuyup.

Ini adalah pertandingan final dengan skor tertinggi sejak tahun 1966 dan itu diliputi dengan drama dan kecelakaan, tidak hanya pada sebuah invasi lapangan di paruh waktu yang kelihatannya disebabkan oleh anggota dari Pussy Riot, dan menampilkan cukup banyak kontroversi juga, mengingat bahwa gol kedua Perancis, sebuah pinalti yang dicetak oleh Antoine Griezmann, datang dari keputusan yang berbatas dari VAR yang selalu memunculkan opini sepihak.

Bahkan sebelum pada titik itu, di sana sanagt sulit untuk tidak merasa simpatik dengan Croatia melihat mereka telah menderita kesedihan dari sebuah gol bunuh diri dari Mandzukic. Zlatko Dalic, sang manajer Croatia, telah berjanji bahwa, jika diperlukan, timnya akan menerima kekalahan dengan penuh harga diri dan setidaknya para pemainnya tidak meyimpang dari garis itu, dengan keadaan yang penuh cobaan. Mereka akan meninggalkan Russia, walau begitu, dengan perasaan bahwa momen kunci keberuntungan itu sedang berjalan melawan mereka, turun hingga detail yang terkecil. Pelanggaran yang ditujukan pada Marcelo Brozovic atas Griezmann yang untuk sebuah tendangan bebas yang menuju kepada gol bunuh diri Mandzukic adalah sebuah kasus yang bertitik pada: keputusan yang murah hati, untuk setidaknya mengatakan begitu.

Itu adalah gol bunuh diri ke 53 dalam sejarah di Piala Dunia, melihat jauh kembali pada seorang pemain Meksiko, Manuel Rosas, melakukan hal yang sama melawan Chile pada tahun 1930. Walau begitu, tidak ada siapapun yang pernah melakukannya di dalam pertandingan final dan mungkin saja Rosas tidak harus menderita penghinaan, seperti yang dialami oleh Mandzukic di sini, dari komentator publik yang memastikan semua orang tahu siapa yang melakukan sentuhan terakhir yang menentukan itu. Usaha Mandzukic untuk membantu pada pertahanan telah berubah menjadi sangat buruk. Bola telah bergulir di atas kepalanya dari tendangan bebas Griezmann dan Perancis berada dalam posisi unggul sebelum satupun dari pemain mereka telah melakukan sebuah usaha untuk mencetak angka ke gawang.

Untuk saat ini semua orang seharusnya sudah cukup tahu soal Croatia sehingga tidak terkejut dari bagaimana kekuatan mereka dalam merespon, yang terpuncak pada penyama kedudukan yang dilakukan dengan indah oleh Ivan Perisic pada waktu 10 menit kemudian, menggunakan kaki kirinya yang berharga untuk menembak dengan rendah secara diagonal melewati area pinalti yang padat.

Semua ini cukup tidak terduga mengingat bahwa tujuh final sebelumnya telah hanya memiliki empat gol pada paruh waktu pertama diantara mereka. Walau begitu hal tersebut dengan cepat menjadi jelas bahwa sebuah turnamen yang menegangkan tidak akan dikecewakan dengan final yang licik dan membosankan, mungkin saja, kembali ke insiden paruh waktu pertama yang menuntun para fans Croatia untuk bersiul dengan sangat keras ketika pada ofisial pertandingan itu mengambil medali mereka.

Itu sudah jelas bukanlah sebuah keputusan yang langsung begitu saja bagi sang wasit asal Argentina, Nestor Pitana, dan panjang waktu yang dia habiskan untuk menganalisa tayangan ulang itu sudah menceritakan kisahnya sendiri. Pada akhirnya keputusan handsball telah diberikan melawan Perisic karena bisa diperdebatkan bahwa tangannya sedang terentang dengan sudut yang tidak normal ketika dia berhenti dibelakang Blaise Matuidi untuk memepertahankan sebuah tendangan sudut.

Apakah tendangan Matuidi tepat menuju sasaran atau mengarah ke arah rekan satu tim? Jawabannya adalah tidak untuk kedua pertanyaan tersebut. Namun mungkin itu dianggap tidak relevan. Bola itu memang mengenai tangan Perisic, walau dia hampir tidak mengetahuinya sendiri, dan itu sudah cukup untuk menghadiahkan sebuah pinalti, tidak perduli seberapa sulitnya hal tersebut. Griezmann menahan semua emosinya untuk menuntun pinalti melewati Danijel Subasic, sang penjaga gawang Croatia, dan setelah hampir empat menit argumen dan argumen balik Perancis berada pada posisi bolak balik.

Pertandingan masih berjalan cukup tenang hingga Mbappe dan Griezmann bergabung untuk mempersiapkan Pogba untuk membuat kedudukan menjadi 3-1 tepat sebelum waktu satu jam. Usaha pertama Pogba kembali pada dirinya dari seorang bek. Yang kedua adalah sebuah penyelesaian yang lebih terkontrol dengan keki kirinya kepada Subasic yang kidal dan , ketika Mbappe menembakkan dengan rendah usaha dari jarak 25 yard untuk gol keempat Perancis pada enam menit kemudian, itu meulai terasa bahwa itu mungkin saja seperti sebuah pemberontakan.

Sebagai gantinya Lloris mencoba untuk menggiring melewati Mandzukic di area enam yard miliknya, membuat sebuah kuping babi dari hal itu dan memberikan skor yang terlihat lebih terhormat dari prespektif Croatia. Di sana terdapat sisa waktu 20 menit di dalam permainan dan para pemain yang dalam posisi kalah tetap mendorong kedepan, mencoba untuk mendapatkan kemampuan melarikan diri dari itu yang hampir mustahil. Luka Modric mendemonstrasikan kenapa dia nanti kemudian akan diumumkan menjadi pemenang Golden Ball, sebagai pemain terbaik di turnamen itu, dan sebuah argumen bisa secara sah dibuat bahwa Croatia seimbang melawan musuhnya pada semua hal kecuali gol. Tim Dalic telah berangkat walau dihadapkan bahwa Perancis telah dilihat sebagai favorit.

Deschamps telah menggantikan N’Golo Kante, tameng bagian tengah lapangan Perancis, dengan awal pada paruh waktu kedua, mengingat bahwa pemain Chelsea itu telah cukup sibuk, namun di sana hanya terdapat sedikit momen ketika musuh mereka mengancam untuk memperhatikan apakah Lloris mungkin akan lengah kembali. Perancis telah bergabung dengan Uruguay dan Argentina sebagai pemenang dua kali dan Piala Dunia itu telah diberikan sebuah penyelesaian yang layak.