Chat with us, powered by LiveChat

NARASI NEGATIF REAL MADRID

AGEN SBOBET -|| BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 ||- Itu hanya Uefa Super Cup. itu hanya sebuah kekalahan pada waktu tambahan. Real Madrd memenangkan kompetisi ini pada tahun lalu dan itu berarti sangat kecil bagi sebuah musim liga yang mengecewakan yang dimana menjadi berarti sangat kecil untuk sebuah perjuangan Liga Champions yang berjaya. Jarum mulai bergoyang, bentuk berubah-rubah, prioritas terus berganti dan, ketika Anda berada di dalam klub yang penuh sekali dengan bakat seperti Real Madrid, biasanya trofi akan mengikuti.

Dan walau begitu pertandingan pada hari Rabu di Tallinn bukanlah hanya pertandingan yang lain, bahkan bukan hanya Super Cup yang lain. Itu adalah pertandingan kompetitif pertama Real Madrid setelah kepergian dari Cristiano Ronaldo – dan itu telah kalah. Mungkin mereka akan tetap kalah dengan Ronaldo. Mungkin pertandingan bahkan tidak akan sampai hingga waktu tambahan. Mungkin dia bahkan tidak akan dimainkan (musim lalu, melawan Manchester united di Skopje, dia keluar dari bangku cadangan dengan sisa waktu 8 menit). Mungkin dia akan melakukan suatu hal yang bodoh, seperti yang dia lakukan di Spanish Super Cup melawan Barcelona pada musim lalu dan membuat dirinya menjadi dilarang untuk lima pertandingan. Namun tidak ada dari hal itu yang berarti: apa yang berarti itu adalah Ronaldo telah pergi dan Real Madrid telah kalah.

Diskusi soal naratif di dalam sepak bola biasanya jadi mengundang putaran mata namun, sama saja dengan dewa, bahkan jika naratifnya itu salah ataupun tidak berbentuk mereka bisa memberikan sebuah pengaruh yang sangat kuat. Mereka adalah sebuah cara untuk menentukan pikiran, untuk mencoba mengerti sebuah peristiwa acak, dan dengan menciptakan sebuah suasana mereka bisa membentuk sebuah peristiwa. Dan untuk kekalahan Real Madrid di Tallinn lewat dengan terlalu rapi ke dalam sebuah gunungan naratif dari kenegatifan.

“Untuk sebagian besarnya kami telah lebih baik,” ujar pelatih baru Madrid, Julen Lopetegui, “tapi kami tidak bisa mengambil keunggulan dari fakta itu dan mereka menggunakan dengan baik semua kesempatan yang mereka dapat.” Itu mungkin tidak terlalu tepat akurat namun itu secara garis besar benar dan itu menambahkan kedalam rasa kekhawatiran yang ada; sesuatu telah berubah. Did dalam beberapa tahun yang lalu, khususnya di dalam Liga Champions, Real Madrid telah sering kali selamat walau tidak menjadi lebih baik, terkadang-kadang bahkan hingga tidak bisa dijelaskan.

Kecuali di sana selalu saja ada sebuah penjelasan: Cristiano Ronaldo. Di sana mungkin telah ada waktu ketika dia meninggalkan Madrid menjadi rentan dengan gagal memenuhi fungsi pertahanannya. Di sana mungkin ada waktu ketika permintaannya soal semua hal harus berputar di sekeliling dirinya membuat Madrid membayar aliran mereka, namun dia mendapat rata-rata 50 gol setiap musimnya selama sembilan tahun. Berikan bola di suatu tempat di dekat dirinya di dalam sebuah posisi yang berbahaya dan kemungkinannya adalah dia akan mencetak gol. Itu mungkin adlah sebuah metode yang terlalu berbahaya untuk memenangkan banyak gelar liga – hanya dia dari sembilan tahun itu – namun di dalam babak knockout dari Liga Champions itu telah terbukti sangat efektif sekali dan tidak mudah untuk ditiru.

Namun di sana terdapat dimensi psikologis juga. Hilangkan sebuah bintang dan sedikit kegelapan tidak dapat dihindarkan pasti akan jatuh, khususnya ketika di sana tidak ada pengontrakan untuk kompensasi untuk sebuah galactico. Pada sebagian besar klub kepergiand ari pemain berusia 33 tahun dan kesempatan ekstra yang muncul akan ditawarkan kepada bakat domestik muda seperti semacam Isco, Marco Asensio dan Lucas Vazquez bisa berputar menjadi sebuah positif namun Madrid adalah sebuah klub yang gambaran dirinya telah dibangun pada kontrak besar dan pada musim ini hal itu tidak nampak.

Mungkin itu sedikit tidak adil pada Thibaut Courtois namun di dalam dunia penjaga gawang modern telah jarang sekali dilihat sebagai bintang. Menghiraukan sang pria Belgia itu, kedatangan satu-satunya adalah pada pemain Brazil berusia 18 tahun Vinicius Junior, menyelesaikan sebuah kontrak yang disetujui pada tahun lalu, dan pemain sayap berusia 22 tahun Alvaro Odriozola. Pembicaraan soal Neymar, Kylian Mbappe dan Eden Hazard telah tidak menghasilkan apapun. Di sana masih ada waktu, tentu saja, namun untuk saat ini di sana terdapat keberlanjutan dari sebuah pergeraan ke bawah yang dimulai dengan Ronaldo memberi petunjuk pada kepergian dirinya di dalam mangkuk di Olimpiyskiy di Kyiv beberapa menit setelah final Liga Champions dan berlanjut dengan pengumuman yang salah waktu dan salah dinilai dari penunjukan pada Lopetegui untuk meneruskan Zinedine Zidane pada malam di dalam Piala Dunia.

Di dalam lapangan Madrid mungkin mendorong dengan sedikit lebih bayak tujuan daripada yang telah mereka miliki – Lopetegui, lagipula, walau dia memulai karir bermainnya di Madrid, telah berada di Barcelona untuk masa akhir jabatan Johan Cruyff – namun telah malah tampil tidak mengesankan.

Gareth Bale telah mengancam pada paruh waktu pertama, dan mempersiapkan gol milik Karim Benzema namun memudar pada babak kedua. Benzema, sangat terbiasa untuk bermain dengan Ronaldo, terkadang masuk dengan sangat dalam di dalam cara yang, dengan entah Bale ataupun Asensio menjadi berlari melewati dirinya, yang berarti di sana ada kekurangan target di dalam kota pinalti. Siku Sergio Ramos tetap tajam seperti biasanya namun baik dirinya dan Raphael Varane telah terkadang dengan aneh menjadi malu-malu. Marcelo menunjukkan sekali lagi bahwa dia adalah seorang bek penuh penyerang yang bagus dan sebuah bek penuh defensif yang biasa saja.

Tidak ada dari itu yang pada khususnya diluar dari hal yang biasanya untuk pertandingan pertama pada musim itu dan, walau untuk beberapa penyelesaian yang sangat bagus dari Atletico, itu mungkin tidak seharusnya berarti menjadi sebuah kekalahan. Namun mereka memang kalah dan jadi naratif dari negatifitas itu mulai bertambah cepat. Madrid tidak pernah kebobolan empat di dalam pertandingan di bawah Zidane. Mereka telah tidak kalah di dalam final antar benua dalam waktu 18 tahun. Dan mereka telah kehilangan Ronaldo. Lopetegui bersikeras kekalahan tidak akan mengubah kebijakan transfer mereka, dan pernyataan kontrak telah dibuat tanpa memikirkan kepada struktur keseluruhan itu jarang sekali bekerja dengan baik, namun sebuah kedatangan besar mungkin menjadi jalan yang paling simpel untuk mendorong Madrid keluar dari bayangan milik Ronaldo.

JACK CORK DARI BURNLEY MENEMUKAN SEDIKIT EKSTRA DAN MENYELESAIKAN INSTANBUL BASAKSEHIR

Sebuah gol pada waktu tambahan dari pemain pengganti Jack Cork membawa Burnley ke dalam final play off melawan Olympiakos untuk mencoba mengklaim sebuah tempat layak di dalam Liga Eropa, dengan rendah hati menyelamatkan pertandingan yang paling hangat dari sebuah persaingan yang bisa saja menjadi sebuah adu pinalti.

Berdasarkan pada waktu 90 menit yang lewat sebelum gol Cork, itu mungkin telah menarik untuk melihat apakah kedua belah pihak bisa membangkitkan sebuah antusiasme apapun untuk menang. Sebuah pertandingan dengan tempo lambat bergulir dengan tak terelakkan menuju ke waktu tambahan dengan tidak siapapun terlihat mau untuk meningkatkan kecepatan untuk memaksakan sebuah hasil, hingga Burnley akhirnya memecahkan kebuntuan itu tujuh menit ke dalam periode waktu tambahan.

Itu terlihat untuk sekilas seperti jika Chris Wood dan Jeff Hendrick mungkin telah melewatkan kesempatan untuk menembak dengan mengoper bola di sekitar daerah pinalti daripada menembak langsung, tapi ketika itu telah diberikan kepada Cork dia tidak melakukan kesalahan dari jarak 20 yard.

Lebih dari itu di sana hampir tida ada apapun yang membuat menarik. Anggota eksekutif TV yang memutuskan untuk tidak menampilkan pertandingan itu telah mengambil keputusan yang benar. Momen yang paling diingat dari malam yang loyo itu datang setelah gol Cork ketika kerumunan Burnley mulai menyanyikan lagu “You’re not singing any more”. Lucu, karena di sana tidak ada lebih dari selusin fans Turki yang hadir dan mereka semua tidak mengucapkan satu katapun sepanjang malam.

“Kami membuat enam pergantian pemain dan masih berhasil untuk mengalahkan pihak yang kuat,” ujar Sean Dyche. “Itu menunjukkan mentalitas skuad kami, kami masih menekan setelah 97 menit dan itu bagaimana kami mendapatkan gol tersebut.”

Di dalam waktu normal Burnley menciptakan pembukaan bebas pertama ketika Ashley Barnes lepas dengan dorongan yang sebenarnya cukup jelas pada Alexandru Epureanu pada garis snetuh dan memutuskan keberuntungannya sedang tinggi, maju menuju ke area pinalti untuk menembak dengan egois ke dalam sisi samping jaring gawang dengan rekan satu tim menunggu di tengah. Sebuah tepisan lemah oleh Mert Gunok telah diterkam oleh Phil Bardsley, yang menjaga tendangan jauh lambungnya pada target dari luar area, hanya bagi sang penjaga gawang untuk membalas dirinya dengan sebuah penyelamatan.

Dihadapi dengan tim yang memiliki ambisi terbatas, pihak Dyche yang memiliki kekuatan sedikit lebih rendah dari penuh kesulitan untuk memanfaatkan dominasi pada awal pertandingan, menikmati banyak penguasaan bola namun tidak benar-benar mengukir banyak kesempatan.

Pada khususnya mereka telah gagal untuk memberikan penetrasi apapun ke arah sisi belakang, yang penting untuk membawa yang terbaik dari Barnes dan Sam Vokesm dan akan jadi memalukan jiga Basaksehir berhasil untuk mengambil keunggulan. Pihak pendatang memiliki dua kesempatan bagus untuk melakukan hal itu, pertama ketika Hendrick telah direbut bolanya untuk membuat Edin Visca bisa menembak dari bagian sudut dari area pinalti, kemudian ketika Kerim Frei menemukan jalan melewati bagian belakang pertahanan tuan rumah untuk memberikan Visca kesempatan dari jarak dekat keduanya. Joe Hart telah sama untuk keduanya, membuat dua penyelamatan penting di dalam menit-menit terakhir dari paruh waktu pertama, walau keduanya adalah sama pentingnya dengan penyelamatan diving yang dia lakukan pada detik-detik akhir pada waktu tambahan untuk membatalkan kemenangan pada Basaksehir. “Kami telah mencoba segalanya namun kami tidak bisa mengalahkan seorang penjaga gawang yang berpengalaman,” ujar pelatih Basaksehir, Abdulla Avci.

Burnley seharusnya maju kedepan pada permulaan pada paruh waktu kedua ketika Ashley Westwood melesatkan masuk sebuah crossing dari arah kiri kepada Barnes yang tidak dijaga, walau begitu dari sebuah posisi yang mengundang pada gais enam yard di depan gawang biasanya sang striker yang terpecaya itu menempatkan sundulannya keluar dari tiang gawang.

Basaksehir mengirim masuk Emmanuel Adebayor dipertengahan waktu babak kedua ketika Burnley menjaga Wood hingga delapan menit terakhir pada pertandingan. Yang setelahnya memang mendapatkan kesempatan yang terlambat, dari sebuah crossing dari arah kanan, namun menenggelamkan tembakannya ke arah penonton dengan cara yang mungkin familier dengan siapapun melihat dirinya beraksi untuk Arsenal, Manchester City atau Spurs.

Gayanya telah sering kali dideskripsikan secara halu sebagai lesu. Pada saat ini dia telah jauh dari gayanya itu.

Tags: