Chat with us, powered by LiveChat

MENYALAHKAN SEPAK BOLA UNTUK KEKERASAN RUMAH TANGGA

SinarSbobet – || BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 || – Ada sebuah rumah yang Saya lewati pada saat perjalan Saya pulang dari kantor yang ditutupi oleh banyak sekali bendera England hingga rumah itu berhenti menjadi sebuah rumah dan menjadi sesuatu hal yang lain: polyester dan cat, rumah itu sedikit bersinar di bawah bayang-bayang, sebuah patriotisme untuk tempat hidup.

Terkadang orang-orang membunyikan klakson mereka ketika saling berpapasan. Untuk setiap momen kebersamaan dan rasa bersemangat, untuk setiap pria dengan nyaring merangkul temannya dalam sebuah ekspresi wajah mabuk kegembiraan diluar Wetherspoons lokal di tempat Saya ketika England menang, di sana terdapat titik balik dari sebuah masalah.

Hari minggu lalu, Saya sedang berjalan perlahan pada sepanjang malam yang panas, ketika putri Saya menari mendahului Saya, dan melewati seorang pria yang sedang semakin frustasi karena pacarnya, yang dimana di rumahnya dia akan menonton sepak bola tidak mengangkat telponnya. “LUCY!” teriak dia ke arah balkon pacarnya, seorang romeo yang mengenakan kaus polo. “LUCY! Jika kau tidak membuka kunci mobil supaya Aku bisa mengambil sikat gigiku, Aku akan memecahkan kacanya dengan batu ini.” Gadis itu tidak bisa mendengar dirinya, jendela rumahnya tertutup, namun pria itu masih terus berteriak, mengumpat beberapa kali lagi, menendang mobil milik gadis itu, mengangkat sebuah batu yang cukup besar. Alarm dari mobil itu pun berbunyi, gadis itu membuka jendelanya, dan pria itu mengumpat ke arah gadis itu ketika gadis itu mencari kunci mobilnya, akhirnya dia menghentikan suara alarm itu dari balkon. Jadi kemudian pria itu menoleh ke arah Saya, semua kemarahan itu dengan tidak memiliki sasaran untuk ditujukan, tidak bahkan kepada jendela mobil untuk dipecahkan, dan berlanjut meneriakan kata-kata umpatan ketika Saya terus berjalan ke jalanan yang lebih tenang, sisa dari umpatan itu masih beterbangan ketika Saya tersenyum kepada anak itu dan berpura-pura tidak terjadi hal apapun.

Ada sedikit sanksi akan kegilaan yang mengelilingi sepak bola, sebuah perubahan. Sebah grafis menjadi viral di media sosial setelah pertandingan Piala Dunia England melawan Tunisa, yang mengaku: “Tidak ada yang menginginkan England untuk menang lebih dari para wanita.” Dipublikasikan oleh yayasan amal akan kekerasan Pathway Project, itu menjelaskan bahwa tingkat kekerasan rumah tangga meningkat hingga 38% ketika England kalah.

Itu telah menyulut sebuah emosi, itu telah dipromosikan secara brilian. Saya mendengar berita itu diulang beberapa kali di pekerjaan Saya, di dalam bar. Pacar menyebutkan tentang hal itu pada saat pertandingan England, dan Ayah Saya menyebut hal itu lagi ketika menonton Iran versus Spanyol. Kenaikan sebesar 38% ketika mereka kalah, dan sebesar 26% ketika mereka menang atau seri. Catatan yang datang dari penelitian yang dilakukan oleh Universitas Lancaster itu melihat dari jumlah kekerasan rumah tangga yang dilaporkan pada sebuah pihak kepolisian Inggris pada saat Piala Dunia tahun 2002, 2006 dan tahun 2010. Pada tahun 2014 angka rata-rata peristiwa yang dilaporkan soal kekerasan yang terjadi telah meningkat hingga 79,3 kasus perhari pada saat pertandingan England, dibandingakan dengan jumlah 59,2 ketika mereka tidak bermain. Kejadian lebih tinggi sebesar 11% pada hari ketika England sedang bertanding, apapun hasil yang akan didapat, dan berada pada angka tertinggi ketika tim tersebut keluar dari turnamen itu.

Satu hal terbaik soal berita ini telah menjadi viral, tentu saja (dua minggu yang lalu itu telah mencapai kepada lebih dari 3 juta orang) adalah hal tersebut menjadi sebuah kesempatan untuk membicarakan soal kekerasan rumah tangga – sesuatu yang terasa sangat berat dan tidak bisa terselesaikan akan tetap sangat familier dan umum yang terjadi tiap minggu ke minggu, kaum wanita yang terluka dan meninggal di tangan para suami dan kekasih mereka jarang sekali mencapai pada bagian muka berita utama.

Hal itu terjadi di sana. Di dalam ruang dapur seseorang, di depan anak orang lain. Hal itu menyembunyikan dirinya – dan ini adalah bagaimana kita membuat diri kita menghiraukan hal itu. Ketika sebuah sosok muncul di instagram Anda, diapit diantara foto salad milik seseorang dan foto matahari terbenam yang tidak diberi filter, atau setidaknya begitu.

Dan, setelah membaca catatam. setelah beberapa detik terkaget, tidak ada siapapun yang terkejut. Tidak ada siapapun yang benar-benar terkejut bahwa kombinasi dari tekanan yang meningkat dan meningkatnya konsumsi minuman beralkohol menuntun ke arah meningkatnya jumlah kekerasan, karena kita semua telah hidup cukup lama sebagai manusia dan jika kita belum dipukul atau memukul, kita tentu saja sudah berdampingan dengan kekerasan, berjalan di jalanan yang tenang ketika seorang pria berwajah merah meneriakan pelecehan pada kita dari bawah bayang-bayang.

Tujuan dari kampanye Pathway Project adalah untuk memasuki rumah kita dan menangkap basah kita, untuk menawarkan bantuan bagi mereka yang sedang menderita, namun juga untuk menyentil mereka yang bisa duduk di depan televisi dan mengabaikan kebenaran yang suram ini.

Namun keefektifan dan hal tersebut, apakah itu membuat perhatian kita salah arah? Sepak bola dan alkohol tidak menyebabkan kekerasan rumah tangga. Tekanan yang ditimbulkan oleh hal-hal ini, pada musim panas ini, juga akan berkontribusi pada hal tersebut dan menyulut hal itu juga, namun penyebab kasus kekerasan rumah tangga adalah para laki-laki kasar yang menyerang pasangan mereka untuk mengendalikan mereka. Walau di sana juga terdapat argumen bahwa teriakan sexist dan budaya macho yang mengelilingi permainan itu berkontribusi ke pada sebuah lingkungan dimana wanita menjadi objektif dan dipinggirkan, disana teradapat jutaan fans sepak bola yang memilih untuk tidak kasar kepada pacar mereka: menyalahkan kepada permainan itu dan minuman beralkohol kelihatannya, sedikit, untuk membebaskan mereka yang melakukannya.

Ketika kemarahan itu berisik dan kekerasan itu menyebabkan memar, kejahatan yang lebih jahat itu, seperti misalnya seperti pelecehan emosional dan kontrol finansial, tetap secara sebagian besar tidak tercatat dan tidak terlaporkan. Catatan ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak untuk mempertimbangkan kekerasan yang terjadi di rumah tetangga kita setiap malam, baik mau tim mereka sedang menang atau tidak, dan baik apapun yang sedang tayang di televisi.

SATU HAL LAGI…
Zsa Zsa anjing buldogg dinobatkan sebagai ‘anjing terjelek sedunia’ pada minggu lalu, bukan hanya karena cara berjalannya yang lebar dan bulunya yang jarang-jarang, namun karena lidahnya yang sangat sangat panjang, dan memastikan ‘hujan air liur’ darinya. Namun marilah kita tidak lupa sang juara berkaki tiga Sam, seekor anjing keturunan Crested China yang buta dan tidak memiliki bulu dan gigi yang terlihat seperti mimpi buruk yang paling imut.

Kegembiraan ekstrim ini bisa ditemui di Karaoke Parkir Paul McCartney, dimana James Corden menemani dirinya pada perjalanan yang paling luar biasa mengelilingi Liverpool, melewati Penny Lane, ke arah bekas rumahnya, bar tuanya, melewati kerumunan para fans yang dengan cepat terbentuk dan meneriakkan ‘Aku cinta padamu’.

Saya sedang membaca ‘Crudo’, novel pertama yang ditulis oleh Olivia Laing yang buku jeniusnya berjudul ‘The Lonely City’ yang selalu Saya pikirkan setiap hari. itu adalah tentang seorang penulis, yang didasarkan pada sang mendiang Kathy Acker, menemukan cintanya pada tahun 2017, pada musim panas yang berapi-api dan penuh fasisme, dia tidak akan pernah melupakannya, musim pertama dari sebuah pernikahan, membangunkan dirinya kedalam kehidupan dewasa pada waktu yang terlambat, tepat ketika dunia mulai menutup.