Chat with us, powered by LiveChat

LAS VEGAS LIGHT: “KAMI TIDAK MEMILIKI SEJARAH”

AGEN SBOBET -|| BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 ||- Di sana tidak terdapat terlalu banyak warisan sepak bola di Las Vegas. Pencapaian dari itu adalah sang Quicksilvers, sebuah tim pengembara yang hanya bertahan untuk satu musim NASL pada tahun 1977. Mereka telah dulu menjadi Baltimore Comets sebelum ditransfer antar negara dan menjadi tim yang dengan megah dinamakan San Diego Jaws. Kemudian datang untuk pindah ke Nevada sebelum pada akhirnya kembali ke San Diego sebagai Sockers. Itu semua sangat seperti Spinal Tap.

Perjuangan sendiri di tengah gurun itu sangat mengecewakan sekali, hanya menonjol pada keberadaan dari Eusebio yang sudah tua di dalam serangan Quicksilvers, masalah lututnya yang terkenal itu memastikan dia itu tidak lebih dari sebuah atraksi Vegas yang memudar lainnya.

Tetap saja, itu karena kurangnya masa lalu sepak bola yang membantu mendorong percobaan terbaru kota itu di dalam mengembangkan dan mempertahankan sebuah tim profesional.

“Kami tidak memiliki sejarah,” ujar Brett Lashbrook, pemilik dan CEO dari Las Vegas Lights. “Kami memiliki lembaran kertas yang kosong. Di negara lain, Anda tidak memulai tim baru. Untuk baik dan buruknya, Anda telah dikekang oleh sejarah selama 100 tahun. Itu mengambil keunggulan dari apa yang kami miliki terhadap banyak tim yang lain di seluruh dunia.”

Ini adalah tahun pertama tim Lights beroperasi dan proses yang berlangsung telah cukup radikal. Memainkan permainan mereka di dalam United Soccer League (USL), secara efektif di tier kedua di piramida Amerika Utara, mereka telah jelas cukup menonjol.

Sebelum musim dimulai, sebuah kerjasama dengan pihak Plaza Hotel telah diungkap: setiap pemain akan menerima 100 dollar dalam bentuk chip kasino jika tim tersebut mencetak tiga angka atau lebih di kandang. Kemudian, pada bulan April, klub itu mengumumkan kerjasama sponsor dengan Pasar Nuwu Cannabis, sebuah pabrik marijuana lokal.

Tapi itu adalah pada saat hari pertandingan ketika semua menjadi terdorong hingga ke puncak. Di dalam ruang ganti, di sana terdapat pertunjukan DJ live menghibur para pemain dan staff. Sepangan llama – Dolly dan Dotty – berpose untuk foto sebelum pertandingan dan beraksi sebagai maskot tidak resmi tim tersebut. Sebelum pertandingan pembukaan musim pada bulan Maret, salah satu dari hewan itu menggunakan lapangan sebagai toilet pribadinya. Maskot tim yang sebenarnya adalah Cash sang Soccer Rocker, dideskripsikan sebelumnya oleh Lashbrook sebagai “seorang Elvis Presley hispanic, dengan sedikit Johnny Cash, sedang naik mengendarai Harley Davidson”.

Mau tidak mau, di sana terdapat suara ketidak setujuan, mereka yang mengklaim bahwa proyek ini adalah sebenarnya hanya sebuah tipuan marketing saja. Pada awal tahun ini, Lashbrook menuangkan bensin lagi ke dalam api dengan mengkonfirmasi pihak Lights telah bersungguh-sungguh untuk mengkontrak Usain Bolt (Pelari sprint yang sekarang sedang mencoba memulai karir sepak bolanya di Australia).

“Kami mendengar tertawaan itu. Saya mengerti. Tapi bawa saja ke sini,” ujar Lashbrook. “Kami tidak akan lari dari itu. Kami tidak takut kepada itu. Itu bagus untuk memiliki tim yang berbeda. Mau Anda membenci kami atau menyukai kami, kami akan membuat Anda tersenyum pada suatu titik nanti. Anda pasti ingin terus mengikuti dan penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Anda tahu ketika Anda datang ke Vegas Anda datang ke sini untuk pertunjukkannya dan kami akan melakukan hal itu dengan cara berbeda.”

Pihak Lights sedang mencoba untuk mengkapitalisasi pada sebuah tambalan ungu yang tidak jelas pada hubungan kota itu dengan olah raga profesional yang sebelumnya tidak ada sama sekali. Kisah kesuksesan terbesar kota itu pada tahun 2018 adalah pihak Vegas Golden Knights dan perjalan mereka ke pertandingan final Stanley Cup. Tapi untuk sebagian besar musim NHL, beberapa kritik mengejek dan mengatakan bahwa perkembangan dari pihak itu sebagai sebuah tipu daya dan menunggu untuk keruntuhan mereka.

Lashbrook menginginkan sesuatu yang hampir mirip untuk pihak Lights.

“Saya adalah seorang pemercaya yang sangat besar bahwa olah raga adalah sebuah hiburan juga,” ujar dia. “Vegas itu adalah 24 jam, berekecepatan tinggi, sexy, berkilau, sedikit mencolok, sedikit vulgar. Dan Saya tidak apa-apa dengan hal itu. Di sana tidak ada seorangpun di Las Vegas yang merasa malu dengan Las Vegas. Jadi kami telah menemukan jalan untuk memiliki sebuah gaya yang tidak bisa Anda temukan begitu saja di kota manapun di daerah Amerika. Dan kami rasa itu adalah faktor x kami dan kami bangga akan hal itu. Saya berasal dari Kansas City – mereka tidak bisa melakukan apa yang telah kami lakukan di sini.”

Jadi, apa yang memakan waktu sangat lama? Kenama Vegas tetap berada di pinggiran sebuah potensi untuk tumbuh menjadi merek olah raga profesioanl yang sukses di dalam kota yang sudah sangat jelas mencolok?

“Kemunafikan murni yang ada di dalam olah raga profesional Amerika dan hubungannya dengan permainan olah raga yang diatur,” balas Lashbrook, dengan langsung. “Untuk waktu yang lama di sana terdapat taboo ini, kekonyolan murni ini soal tidak ingin membawa olah raga profesional ke dalam Las Vegas karena pendangan kuno soal bagaimana perjudian akan mempengaruhi hal tersebut. Perjudian di sini diatur dengan penuh. Setiap kali ada masalah itu adalah di pasar gelap, bukan di sini. Kami sedang membawanya ke arah keterbukaan.”

Sama seperti kota itu sendiri, itu telah menjadi masa ekstrim dalam musim bagi skuad Lashbrook, yang termasuk bakat satu kali Amerika, Freddy Adu. Untuk sementara waktu, permainan playoff terlihat bisa dicapai namun optimisme telah pergi meninggalkannya dan menyelesaikan di posisi delapan teratas di konferensi daerah barat akan membutuhkan sebuah kenaikan cepat di dalam hasil. Tetap saja, di sana telah ada hal positif.

Kritisnya, para fans telah dengan konsisten terus melewati selama masa pergolakanitu. Cashman Field, ballpark di pusat kota yang juga menjadi stadium milik Lights, memiliki kapasitas sekitar 10 ribu orang dan, pada rata-rata, di sana selalu tiga per empat penuh untuk pertandingan kandang – bukan pencapaian yang mudah ketika pertandingan berlangsung pada waktu malam Sabtu, disekitar waktu yang bersamaan dengan Celine Dion, Jennifer Lopez, The Backstreet Boys dan Mariah Carey sedang berada di acara panggung yang berjarak setengah jam dari the Strip. Itu berarti bahwa tim tersebut adalah salah satu yang di dukung paling baik di dalam liga dimana budaya fan yang sedang berdemam (Cincinnati adalah contoh yang paling bagus) membuat posisi atas di Major League Soccer berdiri dan memperhatikan.

“Las Vegas adalah kota terbesar kedua di dunia yang tidak memiliki tim sepak bola profesional,” ujar Lashbrook. “Itu tidak membutuhkan orang jenius untuk melihat di sana ada sebuah kesempatan pasar. Dan sama seperti bisnis berukuran kecil atau sedang lainnya, itu adalah soal lokasi, lokasi, dan lokasi. Saya menyadari di sana terapat sebuah stadium di pusat kota Vegas yang masih dalam jangkauan dengan berjalan kaki ke arah bar, kasino, kehidupan malam, musik. Dan ini adalah populasi yang sangat muda dan sangat kelas pekerja pada lebih dari 2,2 juta orang.”

Lashbrook mengakui, pihal Vegas Golden Knights telah menyediakan klub miliknya dengan sebuah “peta jalan” namun merasa sepak bola memberikan lebih banyak kesempatan daripada hockey untuk membuat pernyataan sosial yang lebih luas – sesuatu yang telah dengan sungguh-sungguh mencoba untuk dibentuk dari sangat awal.

“Tuhan memberkati para Golden Knights,” ujar dia. “Apa yang telah mereka lakukan telah benar-benar luar biasa dan kami sangat mendukung penuh. Namun mereka dan olah raga hockey tersebut tidaklah beragam dan tidak berbicara kepada komunitas yang beragam seperti halnya yang ada di dalam sepak bola. Membawa sepak bola profesional ke dalam Vegas, kami sekarang memiliki kemampuan untuk membawa Ibu sepak bola pinggiran kota itu di dalam sebuah mini-van, hipster millenial pusat kota itu dan keluarga kelas pekerja Las Vegas utara itu dan pada hari Sabtu malam untuk harga 20 dollar, semua orang bisa berdiri saling berjajar untuk menyemangati sebuah tim yang memiliki tulisan Las Vegas di seragamnya dan itu berarti sesuatu.”

Pada sebelumnya, Lashbrook bekerja di markas pusat MLS dan kemudian menjad Chief Operating Officer dengan Orlando City SC ketika mereka bertransisi dari USL ke liga yang lebih besar. Dia melihat hal yang dimana dia bisa mengembangkan dirinya. Dia terus mendengar soal sebuah Amerika yang baru namun dia berpikir di sana tidak ada komitmen yang cukup berarti, hanya sebuah gerakan isyarat saja.

“Dari hari pertama, Saya tidak hanya ingin melayani kaum Hispanic saja atau untuk berintgrasi dengan mereka – Saya ingin untuk mengikutsertakan mereka,” ujar dia. Itu adlaah sangat penting bagi diri Saya untuk menemukan seorang pelatih yang bisa dua bahasa dan dia yang bisa memberikan sebuah keaslian. Itu tidak akan menjadi sebuah tim sepak bola Amerika tradisonal. Dengan jarak kami dengan perbatasan Meksiko, di sana terdapat populasi besar masyarakat Meksiko-Amerika di Nevada bagian Selatan dan Saya rasa kami menemukan pasar kesempatan asli dari membawa sepak bola di dalam kedua negara yang berjarak sangat dekat. Kami menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama dengan Meksiko, mereka adalah tetangga kami di arah selatan, mereka adalah sebuah negara sepak bola asli.”

Di dalam sepak bola Amerika Utara, Isidro Sanchez milik Lights adalah sebuah hal langka: seorang ketua pelatih asal Meksiko. Ayahnya – Jose Luis (yang lebih dikenal sebagai Chelis) yang berapi-api, karismatik dan berpengalaman sangat luas – berperan sebagai direktur teknis klub tersebut. Di sana terdapat 10 pemain kelahiran Meksiko di dalam skuad tersebut dimana empat diantaranya adalah penduduk asli Las Vegas.

“Anda bisa membawa orang dari sepanjang lembah itu bersama,” ujar Lashbrook. “Sepak bola memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh olah raga lain.”

Menjadi sebuah merek MLS adalah tujuannya namun Lashbrook itu realistis. Dia hanya bisa membawa tim cukup sejauh itu dan tahu hanya sebuah produk bertahan yang akan memimpin untuk membuat langkah ke atas itu. Sebanyak apapun hal itu berlawanan dengan etos Vegas, pelan tapi pasti akan memenangkan lomba. Tapi, sama seperti pertunjukkan lain di kota itu, kekhawatiran langsung yang ada adalah untuk menempatkan orang di dalam tempat duduk dan membuat mereka tetap ada di sana.

“Saya tidak memiliki cukup uang untuk menulis cek besar itu,” ujar dia. “Saya bisa membuat mesin klub ini berjalan dan memiliki klub divisi kedua hebat yang bisa bertahan ini tapi kami akan membutuhkan dukungan dari komunitas untuk membawanya ke tingkat selanjutnya. Di sana terdapat banyak ketertarikan di dalam kesuksesan pertama kami. Di sana tidak pernah ada kurangnya rasa tertarik dari orang-orang untuk mendukung dan bekerja bersama kami. Namun bagaimana kami bisa masuk ke dalam MLS? Belilah tiket lebih banyak dari Saya. Itu terdengar seperti sangat egois tapi itu juga adalah kenyataannya, Jika kami gagal di dalam USL, pihak Major League Soccer tiadak akan memiliki rasa tertarik untuk datang ke sini. Di sana tidak ada keraguan di dalam pikiran Saya bahwa kami akan membuat sebuah tawaran yang menarik yang akan sangat mereka inginkan. Tapi kami harus melangkah satu demi satu dahulu.”

Tags: