Chat with us, powered by LiveChat

KANTE, LLORIS, VARANE, GIROUD PASUKAN PERANCIS

SBOBET MOBILE – || BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 || – Jarak antara dari Boulogne sur Mer ke Moscow adalah sekitar 1.700 mil. Lelucon yang jelas itu adlah N’Golo Kante mungkin bisa berlari menempuh jarak itu sambil masih tertidur. Namun perhitungan yang lebih jujur adalah itu akan memakan waktu rute selama lima tahun dari sepak bola Perancis tingkat tiga hingga sampai ke pertandingan sepak bola paling penting di muka bumi.

Lima tahun dari lari yang tanpa lelah dan menyerang dan bertahan dengan gabungan sempurna dari energi dan kecerdasan yang tenang telah meluncurkan Kante ke pertandingan final Piala Dunia melawan Croatia sebagai pria yang melambangkan sebuah wujud seorang pemainnya pemain, seorang rekan satu tim yang dihargai karena nilainya yang tak tergantikan, ketidak sombongannya, dan kontribusinya.

Di sana terdapat debu bintang yang lebih dikenali di tempat yang lain di dalam tim Perancis. Lebih tepatnya Kylian Mbappe telah membuat dunia ternganga pada kecermelangan luar biasanya. Paul Pogba selalu meminta perhatian. Antioine Griezmann membawa cap. Hugo Lloris adalah seorang juru bicara dan kapten yang dikagumi. Bahkan Benjamin Pavard memiliki momen cemerlangnya ketika dia mengayunkan sebuah tendangan melawan Argentina telah menjadi salah satu gol terbaik di dalam turnamen ini.

Kante tidak tertarik pada sebuah pengakuan publik. Di luar lapangan dia merasa paling senang berada di dalam bayangan. Dia adalah pahlawan lokal yang bersembunyi dari sorotan perhatian. Di sana terdapat sebuah persetujuan antar pria diantara dirinya dan alat miliknya sendiri, mereka tidak tidak mengejar dirinya untuk sebuah kutipan atau memfokuskan lensa mereka ke arah dia dengan terlalu tajam. Selama dia melakukan hal yang dia mahir di dalam lapangan, mereka akan menghormati pilihannya untuk tetap berada jauh dari sorotan. Itu adalah aspek dari kepribadiannya yang mungkin memberikan kesan dari seorang aktor pembantu namun status dirinya di dalam tim itu sangatlah tinggi.

Setelah kemenangan di pertandingan semi final melawan Belgium, rekan satu timnya, Benjamin Mendy memposting sebuah foto dimana terlihat dia merangkul salah satu rekan timnya dan menegaskan sebuah poin dengan menunjuk kearah temannya itu, memamerkan diri temannya itu, menandai diri temannya untuk dilihat oleh para penonton: “SVP dites moi comment on l’aime lui ???!!! [Tolong beritahu Saya betapa kita sangat mencintai dirinya???!!!]”

Samuel Umtiti menjabarkan: “N’Golo bekerja di balik bayangan. Kami merasa berkewajiban untuk membawa dirinya ke dalam cahaya. Untuk mengangkat dirinya ke atas, kami akan menyuruh dia untuk menari, untuk sedikit lebih mengekspresikan dirinya. Dia tidak menyukai hal itu. Dia itu pemalu dan sopan. Namun hanya membuat dia tersenyum saja sudah membuat kami menjadi bahagia.”

Kante adalah bagian tengah dari sebuah tulang punggung yang telah menjadi titik pusat untuk bagaimana tim Perancis berfungsi. Mereka memberikan sebuah keseimbangan dan pemberat, membuat yang lain di sekitar diri mereka untuk menambahkan perkembangan. Lloris di gol adalah sebuah pengaruh yang bijaksana dan dewasa. Raphael Varane adalah yang lain yang tidak bersikap dengan cara yang flamboyan dan membiarkan sepak bola dirinya yang berbicara untuk kualitas pertahanannya yang besar. Kemudian di sana adalah Kante yang berpatroli di bagian tengah lapangan seperti itu di sana terdapat dua dirinya yang sedang berkeliaran. Jauh di depan usaha Olivier Giroud mungkin belum menghasilkan gol satupun untuk dirinya sendiri, namun keberadaan dirinya dan permainan saling menyambungkan membantu Mbappe dan Griezmann untuk memiliki kebebasan untuk mengeksperiskan diri mereka sendiri.

Kritik yang telah lama menunggu untuk Perancis adalah untuk menemukan identitas mereka, yang mempertanyakan apakah mereka bisa memenuhi potensial mereka pada saat tahap grup ketika mereka berlayar melewatinya dengan hasil yang positif namun hanya dengan performa yang cukup, telah melihat itm mereka berevolusi pada saat pertandingan knockout. Sekarang tim itu sudah bersinggah. Sekarang mereka memiliki keyakinan terhadap apa yang mereka lakukan. Sekarang mereka sudah klop dan mengeluarkan yang terbaik antara satu sama lain.

Di dalam performa mereka yang menonjol, skuad termuda nomor dua di dalam Piala Dunia ini menemukan sebuah campuran kuat dari semangat pemuda dan kedewasaan taktik. Mereka bisa menjadi lebih terlihat jelas dan imajinatif ketika melawan Argentina, harus menjadi lebih tangguh dan strategis ketika melawan Belgium. Satu denominator yang umum di dalam tipe penampilan semacam ini adalah pihak berwajib yang disiplin yang berjalan berdampingan dengan tulang punggung itu, menetapkan ritme dan menjaga detak permainan.

Bagi Kante untuk menjadi bagian dari itu, untuk berjalan keluar di Luzhniki Stadium pada hari Minggu, bergema dengan cara yang spesial karena dia telah menghabiskan banyak sekali dari tahun perkembangan sepak bolanya berada di luar rada. Sebuah jiwa lembut yang tersenyum, cerita pribadinya berjalan melawan model perkembangan pemuda yang sangat dibicarakan di dalam set Perancis. Dia adalah satu dari tiga pemain yang ada di dalam skuad yang tidak mewakili negara mereka pada tingkat junior, menjadi perkembangan yang terlambat atau telah datang sejauh beberapa blok dulu sebelum mendapatkan kesempatan untuk bersinar.

Baik Kante dan Giroud harus menghabiskan waktu di tingkat ketiga pada sepak bola Perancis untuk bisa mendapatkan pijakan kaki, Kante dengan US Boulogne dan Giroud dengan Istres. Yang lainnya adalah, Adil Rami, yang dulunya adalah pemain amatir yang bermain untuk Frejus di divisi keempat ketika juga melakukan pekerjaan sampingan lainnya sebelum dia bisa mendapatkan kesempatan bagi dirinya untuk naik.

Kante telah membuat debutnya untuk Perancis pada ulang tahunnya yang ke 25. Biasanya ketika saat itu kapal internasional sudah lama berlayar. Pada Piala Dunia yang lalu dia tidak bisa ditemukan dimanapun dekat dengan sepak bola internasional. Malah faktanya, hanya pada waktu beberapa bulan sebelum panggilan pertamanya pada bulan Maret 2016, dia masih didekati oleh Mali, tempat kelahiran orang tuanya, dengan undangan untuk ikut serat di dalam Africa Cup of Nations.

Itu sulit untuk tidak bertanya bagaimana berbedanya semua hal ini jika saja dia itu lebih tertarik dengan tawaran tersebut, andaikan dia tidak memutuskan untuk menahan hal itu sedikit lebih lama untuk melihat jika di sana akan ada panggilan dari negara tempat dia lahir.

Perancis menjadi penerima yang beruntung dari sebuah pemain yang harus menempatkan putarannya sendiri pada peran pembawa air yang oleh sang manajer, Didier Deschamps, tampilkan dengan percaya diri untuk sang pemenang Piala Dunia tahun 1998. Patrick Vieira mendeskripsikan Kante sebagai sebuah “impian para pelatih” untuk cara rajinnya dia bekerja menyediakan struktur penyokong satu orang bagi Perancis untuk mengembangkan ritme mereka. Pogba, yang pengaruh dari dirinya juga telah berkembang setelah bermain bersama dengan dirinya, mengakui Kante bermain seperti dia memiliki 15 buah paru-paru.

Perancis bukanlah asing jika mengenai pertandingan final besar. Ini adalah final Piala Dunia mereka yang ketiga dari enam edisi yang lalu. Mereka juga telah mencapai dia final di Kejuaraan Eropa di dalam dua dekade yang sama. Namun pada waktu itu mereka juga jatuh ke dalam beberapa kejatuhan yang buruk, yang paling baru ini ketka tim itu memberontak dan jatuh di dalam aib kandang dari Afrika Selatan. Kembali pada tahun 2010, Kante yang mencapai masa remaja sedang bermain di divisi ke 8 di Perancis untuk JS Suresnes, diabaikan karena dia adalah pemain kecil dan tanpa pamrih. Masih kecil, masih tidak egois, dia berdiri di ujung sebuah langkah yang lebih besar ke dalam dongeng sepak bola.