Chat with us, powered by LiveChat

EVERTON : ENAM TERATAS HILANG DI UJUNG CAKRAWALA?

 

AGEN SBOBET -|| BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 ||- Berita baik bagi para pengikut sepak bola adalah bahwa Liga Premier akan segera kembali datang. Kabar buruknya adalah, jika klub yang Anda dukung tidak menyelesaikan di posisi enam teratas di musim yang lalu, itu sudah hampir bisa dipastikan lagi jika diantara 14 besar juga akan berjalan pada waktu kali ini. Berita yang lebih buruknya lagi, melihat pada bukti di beberapa musim yang telah lalu, adalah bahwa para klub “sedang mengetuk pintu” yang dimiliki oleh posisi enam teratas – itu adalah, menunjukkan ambisi untuk mencoba agar bergerak kedepan dan bergabung bersama dengan klub besar lainnya – harus menjadi tetap hati-hati terhadap kekhawatiran akan relegasi sama seperti tim yang biasanya diharapkan untuk menghabiskan sebagian besar waktu mereka berada di bagian paruh bawah dari dalam daftar.

Ambil contoh saja Everton. Andai saja mereka tidak terelegasi pada musim lalu namun mereka cukup merasa khawatir untuk menunjuk Sam Allardyce, yang kurang lebih menekankan maksud dari itu. Pada waktu kali ini pada tahun lalu mereka telah menghambur-hamburkan uang mereka, dengan sang pemilik baru yang bersemangat untuk meninggalkan jejaknya, sebuah stadium baru akan segera datang dan sebuah keyakinan yang penuh percaya diri bahwa tempat ke 7 di daftar tahun 2016-17 adalah sebuah tepi pantai dari mana posisi enam teratas akan bisa diserang. Untuk mengatakan bahwa hal itu tidak cukup berjalan dengan baik itu akan menjadi sebuah peremehan.

Ronald Koeman tidak bisa bertahan di dalam perjuangan Liga Eropa yang kelam yang berakibat dengan buruk di dalam bentuk liga, Allardyce menyeimbangkan kapal itu namun dengan ceroboh berhasil mengucilkan para suporter juga dan, walau klub itu sekarang memiliki pengganti yang pada awalnya memang mereka inginkan di dalam Marco Silva, sinyal optimisme dan penandatanganan pada musim panas yang lalu hanyalah tinggal sebuah kenangan.

Mereka juga bukan merupakan yang merasa bahagia. Salah satu alasan Everton belum juga mengeluarkan siapapun adalah karena mereka sadar betul dari butuhnya untuk menggerakkan orang-orang keluar. Para suporter merasa terkejut untuk menemukan bahwa dua dari pemain yang telah mendapatkan waktu kurang dari setahun untuk membuktikan diri mereka telah tidak pasti untuk menemukan masa depan di dalam klub tersebut – Sandro Ramirez dan Davy Klaassen – keduanya berada dalam kontrak yang mencapai hingga enam dijit untuk setiap minggunya.

Everton belum menyerah untuk hal pasar transfer: biaya akan dibuat tersedia jika bisnis bisa dilakukan untuk ditargetkan kepada SIlva dan direktur baru bagian sepak bola, Marcel Brands, telah mengidentifikasi, walau itu adalah sebuah rahasia yang terbuka bahwa klub tersebut sedang membawa terlalu banyak beban penghambat – untuk menggunakan ekspresi yang digunakan Wayne Rooney – pada gaji yang cukup besar yang dimana hanya sedikit para pembeli yang prospektif lainnya yang dapat menyaingi.

Ketika kembalinya Rooney ke Goodison mungkin tidak menjadi sebuah kesuksesan yang lengkap, setidaknya dia membawa hal itu menjadi sebuah penutupan yang rapi dan cukup terhormat.

Mungkin Everton hanya memiliki diri mereka sendiri untuk disalahkan untuk pemborosan tersebut, sepanjang waktu satu tahun yang lalu mereka pada umumnya menunjukkan pandangan kedepan dan perusahaan pendukung buasanya ingin dilihat di dalam klub mereka. Mereka memiliki seorang direktur sepak bola yang terpandang baik di dalam Steve Walsh untuk mengawasi perekrutan pemain, didukung oleh seorang manajer yang mereka bayangkan akan tetap berada bersama mereka untuk masa kedepan yang bisa dilihat nanti dan mengambil sebuah lompatan finansial yang berani. Sayangnya hanya penangkapan pada Jordan Pickford yang bisa dideskripsikan sebagai uang yang dibelanjakan dengan layak dan kegagalan untuk menggantikan Romelu Lukaku dengan pemain yang cukup sama adalah, hal itu harus diakui, sebuah kelalaian yang memiliki sebuah akibat besar.

Walau begitu itu juga masih memungkinkan bahwa Everton menjadi terperangkap dengan apa yang bisa disebut sebagai efek Leicester: sebuah pemikiran yang tiba-tiba memabukkan bahwa klub berukuran sedang di Liga Premier mungkin tidak harus membelanjakan dari tiap musim ke musim melihat lagipula pada bayangan kaum elit Eropa di sana. Ketika bahwa pada saat ini kesuksesan gelar yang belum tentu dari sang Foxes pada tahun 2016 sering kali dikutip sebagai bukti bahwa hampir siapa saja bisa memenangkan liga itu – tunggu saja pada kemungkinan di Wolves akan ditebas jika pihak yang baru saja dipromosikan itu berhasil menggulingkan Everton pada akhir pekan pertama – apa yang seharusnya tidak dihiraukan adalah bahwa posisi enam teratas harus memperkuat diri mereka dengan sangat besar pada beberapa tahun yang lalu ini untuk mencegah hal yang sama terjadi sekali lagi.

Para posisi enam teratas menempatkan diri mereka pada satu musim setelah kemenangan Leicester adalah yang sama dengan pada musim yang lalu, hanya dengan urutan yang berbeda. Pada tahun 2017 jurang yang ada diantara Manchester United pada posisi ke 6 dan Everton di posisi ke 7 adalah sejauh delapan poin, pada musim lalu selisih antara Arsenal dengan posisi ke 6 dan Burnley pada posisi ke 7 adalah sembilan poin.

Mungkin perbedaan itu hanya dihitung sedikit ketika Manchester City memenangkan gelar dengan selisih sebanyak 19 poin dari rival terdekat mereka United. walau dalam faktanya bahwa 13 klub di Liga Premier tidak bisa untuk menembus melebihi dari batasan 50 poin yang menujukkan bahwa status elit mereka mulai pergi jauh.

Begitu juga dengan kebijakan transfer milik Liverpool. Walau Jurgen Klopp pernah mengatakan dia akan lebih memilih untuk meninggalkan pertandingan daripada menjadi ikut terlibat di dalam sebuah kompetisi untuk menghamburkan uang, reaksinya pada penyelesaian dengan 25 poin di belakang City adalah untuk menambahkan penjaga gawang paling mahal di dunia dan juga pemain bek yang paling mahal di dunia, belum juga Naby Keita, Fabinho dan Xherdan Shaqiri.

Liverpool menyelesaikan dengan posisi ke delapan pada tahun Leicester menang, satu tempat di depan Stoke, yang sekarang berada di dalam perlombaan itu. Ketika Everton menyelesaikan pada posisi ke 7, West Bromwich Albion berhasil mendapatkan posisi ke 10 yang patut dihargai, walau begitu mereka juga telah jatuh keluar dari gambaran itu secara keseluruhan.

Apa artinya itu dalah bahwa Burnley, Everton, Leicester dan Newcastle mungkin harus tidak mengambil terlalu banyak tanpa resiko pada dasar untuk menyelesaikan di posisi paruh atas di dalam daftar pada waktu yang lalu, meskipun itu berada di posisi bawah. Di sana hanya terdapat penyebaran sebesar 23 poin diantar Burnley di posisi ke 7 pada musim lalu dan West Brom pada posisi terbawah, walau begitu 37 poin terpisah dari posisi ke enam dengan posisi pertama.

Di dalam kondisi seperti ini, ketika itu tidak bisa dikatakan dengan yakin sepenuhnya bahwa posisi enam teratas akan ada disini untuk tetap bertahan, itu sudah bisa diyakini bahwa menjebol melewati langit-langit akan menjadi lebih sulit daripada waktu sesudah Leicester. Seseorang hanya bisa berharap para klub itu akan tetap terus mencoba. Namun, ketika Everton yang didera paham akan bayaran mereka, taruhan yang ada sangat besar di dalam permainan ambisi ini dan di sana terdapat sangat sedikit sekali ruang untuk kesalahan.

Tags: