Chat with us, powered by LiveChat

ENGLAND YANG DI MODEL ULANG OLEH GARETH

 

SinarSbobet – || BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 || – Itu adalah hari Minggu sore, di tepi pantai hotel di Repino, dan Gareth Southgate sedang berpikir kembali pada waktu malam hari England masuk kualifasi untuk Piala Dunia dan salah satu kejadian besar di Wembley – yang dimana hanya terjadi sedikit sekali – yang entah bagaimana masih terasa relevan ketika menentukan arah tujuan dari tim miliknya.

Southgate sedang mengenang soal kemenangan tipis dengan skor 1-0 melawan Slovenia pada bulan Oktober lalu ketika ingatan yang menutupi hal itu bukanlah kemenangan terlambat Harry Kane namun ketidakpuasan masam dari para penonton dan pemandangan mengecewakan dari ribuan penggemar yang merasa perlu untuk membuat hiburan mereka sendiri – untuk kali ini adalah origami. Pesawat kertas yang mendarat di tengah lapangan terasa seperti sebuah simbol apatis dari para fans. Seruan ejekan dengan segara mengikuti. “Penonton yang bosan, pesawat kertas dan kepulangan yang lebih awal – sesuatu ada yang benar-benar salah dengan tim England ini,” adalah salah satu berita utama yang muncul. Dan itu bahkan lebih buruk lagi, seperti yang juga bisa diingat oleh Southgate, pada saat wisata England ke Malta pada bulan sebelumnya ketika pihak musuh menampilkan gelandang tengah dari Ebbsfleet United dan, bagi banyak para suporter yang pergi ke sana, ada sesuatu yang mencapai batasnya.

Kejadian kepulangan massal pada sekitar menit ke 70 pada malam itu terlihat seperti sebuah protes yang terkoreografi. Teriakan dari kata-kata “Kita ini jelek sekali” mengatakan cerita mereka sendiri dan yang tidak pernah dilaporkan hingga saat ini adalah bahwa pemain England juga menjadi target ketika mereka meninggalkan tempat itu. Malta berada pada posisi ke 190 dari 211 tim yang ada di dalam ranking Fifa dan hanya menang sebanyak lima kali pertandingan kompetitif dalam 55 tahun. Walau begitu skor saat itu adalah 0-0 pada paruh waktu dan sebuah serbuan gol yang terlambat, ketika England mencetak tiga angka, tidak memberi ampun pada Southgate dan para pemainnya pada saat perjalan keluar dari stadium. Teriakan yang terdengar memberitahu mereka bahwa mereka tidak layak untuk mengenakan seragam tersebut. Itu adalah dengki, pemberontakan dan tidak diragukan lagi adalah puncak dari frustasi yang sudah terlalu lama bertahun-tahun terus menumpuk.

Sepuluh bulan pada sisi saat ini akan berada di Moscow pada hari Selasa untuk melawan Colombia untuk sebuah posisi di perempat final pada Piala Dunia dan Southgate – pria yang melamar beberapa pekerjaan di dalam Kejuaraan tanpa bahkan mendapatkan wawancara hanya beberapa tahun yang lalu – telah mempertahankan dirinya dengan sedemikian cara hingga dia bisa menggandakannya, kelihatannya, seperti seorang pemimpin fashion yang tidak terduga, ditanyakan di salah satu wawancara BBC apakah dia sadar seberapa banyak penjualan rompi telah meroket naik kembali di England.

“Mereka telah berhasil bisa mengubah pandangan tentang bagaimana tim England mungkin akan bermain,” ujar Southgate soal para pemain miliknya. “Kami tidak boleh kehilangan pandangan tentang hal itu. Ketika kami masuk kualifikasi, orang-orang pada melemparkan pesawat kertas ke arah tengah lapangan pada saat di Wembley. Kami terdorong mundur ke hotel kami di Malta dengan teriakan buruk dilemparkan ke arah kami oleh para suporter.”

“Saya merasa kami mulai menyambungkan tim ini dengan masyarakat publik kembali. Saya merasa kami telah menciptakan sebuah kegembiraan, dimana kami telah bermain dengan gaya yang telah benar-benar menunjukkan apa yang sebenarnya bisa dilakukan oleh para pemain muda Inggris, dan Saya ingin kami untuk terus lanjut melakukan hal tersebut. Saya sangat percaya kepada grup pemain yang kami miliki. Mereka masih muda. Mereka masih kurang berpengalaman. Bagi beberapa dari mereka, ini akan menjadi salah satu pertandingan terbesar yang pernah mereka ikuti di dalamnya. Namun mungkin juga bukan yang terbesar. Kami harus selalu menjaga konteks tersebut bagi para pemain.”

Kepercayaannya adalah bahwa England tidak bisa “menganggap diri kami adalah tim tingkat atas hingga kami berhasil mengalahkan tim tingkat atas sendiri” namun dia mendorong mereka untuk berpikir seperti salah satunya sebelum mereka mendapat kesempatan untuk mengambil kepemilikan atas pemain semacam seperti Radamel Falcao, Juan Cuadrado dan, memungkinkan cidera, James Rodriguez. Sejak saat permulaan turnamen ini satu kalimat telah sering terdengar lebih dari kalimat lain di camp England. Itu adalah untuk “menyerang turnamen itu”. Jangan menahan apapun, jangan bermain dengan batasan dari tim England lainnya. Jangan menjadi tim Euro 2016 atau yang banyak lainnya.

Southgate bermain di dalam sebuah era untuk England ketika semangat tim diremehkan oleh klise sebuah klub. Walau begitu pada hari Sabtu, ketika diberikan satu hari libur, Jordan Henderson, Danny Welbeck, Marcus Rashford, Trent Alexander Arnold dan Jesse Lingard pergi bersama ke taman hiburan Divo Ostrov di St Petersburg. Atau jika melihatnya dari sisi lain, dua pemain dari Liverpool, dua dari Manchester United dan satu dari Arsenal, semuanya bersikap gila pada saat menaiki sebuah roller coaster karena mereka mengira itu akan berjalan sebelum mereka memasang sabuk pengaman mereka. “Anda harus mengesampingkan rasa rival antar klub untuk sementara,” ujar Lingard. “Kami sudah seperti keluarga. Kami semua jadi rukun satu sama lain dan itulah kenapa kami bisa melakukan hal dengan baik. Di sana tidak ada pertikaian. Tidak ada klise.”

Kembali pada latihan pada hari Minggu, Southgate sedang bekerja dengan formasi 3-3-2-2 miliknya dan, seperti yang sekarang sudah menjadi kebiasaan, para pemainnya mengakhiri latihan itu dengan latihan adu pinalti yang termasuk dengan berjalan dari lingkaran tengah lapangan, satu per satu, untuk mengambil sasar dari jarak 12 yards. Satu potensi masalah itu adalah Jamie Vardy dan Rashford, dua pemain yang akan dengan senang mengambil satu tendangan, mungkin tidak akan memulai di pertandingan. Jordan Pickford telah menjaga tiga dari 25 tendangan pinalti di sepak bola senior sedangkan Jack Butland telah menjaga 4 dari 25 pinalti yang dia hadapai (tapi tidak satupun dari 10 terakhir) dan Nick Pope, pejaga gawang pilihan ketiga England, memiliki statistik terbaik, di menyelamatkan tiga dari 13 tendangan.

Pope hampir tiga inchi lebih tinggi daripada Pickford dan itu akan menjadi menarik untuk mencari tahu apakah Southgate akan memperhitungkan untuk membawa sang penjaga gawang Burnley karena sebeb tersebut, melihat juga England masih memilki pengganti yang tersedia. Southgate tidak terkesan dengan analisis Thibaut Courtois yang mengecewakan soal selisih kurang beberapa inchi Pickford setelah kekalahan skor 1-0 England melawan Belgium minggu lalu, namun itu memang benar bahwa penjaga gawang dengan tinggi dan rentangan tangan yang cukup lumanya bisa memberikan keuntungan psikologis kepada pihak lawan pada saat adu pinalti.

Itu adalah taktik yang dikerahkan oleh Martin O’Neill, untuk contohnya, pada final play off tahun 1996 untuk Leicester City melawan Crystal Palace. Itu memang tidak dibutuhkan, pada akhirnya, karena kemenangan pada menit terakhir oleh Steve Claridge, namun O’Neill telah melepas Kevin Poole tidak lama sebelumnya untuk mengganti dirinya dengan penjaga gawang cadangan Leicester, Zeljko Kalac, seorang pria Australia setinggi 6 kaki 7 inchi yang dikenal dengan sebutan “laba-laba” karena jangkuan tangannya yang jauh.

“Enam kaki tujuh inchi dan tidak berguna,” seperti yang dideskripsikan oleh O’Neill pada dirinya. Tidak informasi dari dalam bahwa Southgate sedang berencana untuk melakukan hal yang sama tapi, untuk semua bakat yang dimiliki oleh Pickford, komentar Courtois mungkin akan sangat menyengat karena mereka membawa beberapa elemen kenyataan.