Chat with us, powered by LiveChat

ENGLAND SUDAH SIAP PIALA DUNIA LAGI

AGENSBOBET – || BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 || – Pasang bendera lebih banyak lagi. Hilangkan lipatan dari topi badut salib St George milik Anda. Bersiap untuk meluncurkan segelas besar lager hangat ke arah langit-langit. England sudah siap untuk berangkat lagi.

Pada hari Rabu malam tim Gareth Southgate akan keluar dari dalam Stadium Luzhniki di Moscow untuk bermain di dalam pertandingan semi final Piala Dunia England yang pertama sejak selama 28 tahun ini. Musuh mereka, Croatia, berada dalam posisi lebih rendah 6 rangking setelah diturunkan oleh Fifa. Bagi Southgate dan para pemainnya sebuah moment krisi olah raga yang langka sedang menanti.

Selama saat beberapa hari yang lalu ini telah ditandai dengan perasaan dari histeria Inggris yang semakin terkumpul, belum lagi soal pelarian yang dipenuhi dengan minuman ketika seluruh negeri secara energis jatuh berkeping-keping, kemudian itu pantas untuk dicatat bahwa momen seperti ini tidak seringkali datang begitu saja.

Pada terakhir kali England berhasil mencapai sejauh ini adalah ketika Italia 90, ketika Margaret Thatcher masih memiliki kekuasaan, Jeremy Corbyn masuk ke pengadilan karena tidak membayar pajak pemilihan dan fans England yang berada di Turin harus melakukan telepon jarak jauh dari kotak telepon untuk bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di rumah.

Jika saja mereka berhasil melewati Croatia, para pemain Southgate akan kembali ke Moscow pada hari Minggu untuk apa yang akan menjadi final Piala Dunia bagi England sejak tahun 1966 dan semua itu: adalah sebuah event yang sangat digemari di dalam budaya populer ini – Empire Stadium, Nobby sedang menari, Bobby More mengelap tangannya sebelum kemudian menyalami tangan sang Ratu yang mengenakan sarung tangan putih – itu hampir terasa seperti sesat untuk berpikir tentang membandingkan hal itu.

Menang ataupun kalah, bagian yang paling mengesankan dari perjalanan England di Russia adalah rasa dari berbagi perasaan publik secara bersama. Selama empat minggu berada di Russia, dari Volgograd hingga ke Samara, para pemain telah muncul sebagai kru yang sangat dicintai dan sebuah cerminan yang memuji negara itu secara besar – cerdik, rajin, lucu, dan cukup beragam di dalam latar belakang mereka.

Plus tentu saja di sana teradapt Southgate, yang di dalam beberapa minggu ini telah terlihat seringkali seperti satu-satunya orang yang memimpin semuanya, yang terlihat seperti dia memang sudah tahu apa yang sedang dilakukannya.

Pada waktu hari Selasa sore, itu adalah sebuah ruangan berdiri hanya untuk penampilan publik terakhir sang manajer sebelum pertandingan final, suasana udara di ruang pers di Luzhniki sangat penuh dengan kegirangan, glamor event dan efek dari empat minggu di dalam perjalanan dengan kesempatan mencuci baju yang sangat minimal.

Camera berputar, leher terjulur. Seseorang sepertinya jatuh di posisi belakang. Dan akhirnya di sana dia muncul, Gareth yang hebat. Dan iya, memang itulah Gareth saat ini: seorang panutan, pembawa mimpi dan raja matahari Russia 2018 yang bisa segalanya. Gareth tidak mengenakan rompi ciri khasnya di sini, ataupun “baju jas tanpa lengan yang biasanya” seperti yang ditulis pada laporan salah satu berita di akhir pekan ini, takut menggunakan kata yang sama dua kali.

Dengan baju jas tanpa lengan itu diistirahatkan Gareth terlihat tampil casial di dalam atasan olah raga berwarna hitam dan biru, meminta sebuah ketenangan karena sebuah peratnyaan pertama yang mendesak sedang diajukan dari lantai itu tentang pemain England yang seperti ayam karet telah digambarkan berkotek pada saat latihan. “Itu hanyalah sedikit bersenang-senang,” jelas Gareth, ketika pada saat bersamaan tiga ratus pasang jari berputar pada setiap kata-kata dan gerakannya.

Tidak ada satupun yang mengira semua ini. Mungkin karena itulah kenapa hal itu terasa sangat megah. England tidak seharusnya memenangkan sebuah adu pinalti atau bisa masuk kedalam 4 besar di dalam Piala Dunia. Kita tidak seharusnya mengagumi para pemainnya, ditampilkan selama bertahun-tahun sebagai atlit bintang yang terkenal dan bersinar. Bahkan Southgate seharusnya tidak menjadi manajer England, mengajukan diri dari tim pemuda ketika Sam Allardyce dipecat setelah sengatan berita koran yang mengungkapkan sedikit rasa tertarik di balik fakta bahwa manajer England itu telah duduk di sebuah restoran meminum satu gelas besar anggur.

Southgate diberi periode ujian empat pertandingan yang memalukan. Kata-kata publik pertama darinya di dalam pekerjaanya adalah sebuah permintaan maaf. Dan pada hari-hari awalanya dia masih mencerminkan seorang guru cadangan yang mendapat nasib sial yang selalu mendengarkan dan membuat kelas menyukai dirinya namun masih pulang kerumah untuk menemukan kantongnya dipenuhi dengan puding.

Dia sakarang memiliki cahaya berbeda yang mengelilingi dirinya, energi alpha yang membuat semua yakin dan sebuah karisma yang hening. Gareth telah membuat lelucon kecil soal tidak ingat dengan 1966. Di dipan barisan orang yang tegang dan lelah dan memegang leher dengan tangan mereka.

Akhirnya Southgate mengatakan hal yang dia katakan dengan sangat baik, tentang bagaimana disana telah terjadi sedikit perpisahan di rumah namun diharapkan sepak bola bisa membawa orang-orang kembali bersatu. Dan tentang bagaimana bersemangatnya para pemain hanya dari besarnya tingkat antusiasme, kegembiraan – dan mari kita terima saja, sedikit maniak – kembali di rumah.

Reaksi yang ada di England bisa menjadi pemandangan yang mengejutkan jika dilihat dari teleskop di ujung yang lain. Di Moscow sana terdapat sedikit histeria dan beberapa fans England pada saat penulisan ini. Anda bisa berjalan selama empat jam sekarang dan tidak melihat tanda-tanda nyata dari Piala Dunia yang sedang berlangsung. Ini adalah sebuah kita yang diselimuti dengan kehidupan, namun yang memiliki rasa menahan diri tentang hal ini.

England mungkin adalah favorit dari yang akan bisa mencapai final dari sini. Croatia memiliki pemain yang lebih baik di dalam berbagai area. Luka Modric adalah pemain paling berkelas yang tersisa di dalam turnamen ini, namin dia sudah berusia 32 tahun sekarang dan telah masuk di dalam waktu tambahan pada dua ronde yang sudah berlangsung. England masih segar, energis dan sebuah tim yang memiliki keharmonisan dengan diri mereka sendiri.

Di sana sebuah rasa pusing di dalam semua ini, sebuah perasaan tentang daerah yang belum terjamah dari berbagai segi, belum lagi rasa takut ketika semua ini sudah berakhir dan itu dibutuhkan untuk sekali lagi kembali ke tempat yang disebut dunia nyata. Untuk saat ini England di Moscow berjanji akan memberikan yang sama, kegembiraan dan penderitaan yang akan dibagi bersama lagi, bir dan udara yang dibagi bersama lagi, pemandangan mengesankan dari sebuah tim dan seorang manajer yang pada kali ini melaju ke atas, mencapai diatas semua yang ada di bagiannya, dan sekarang sudah dekat pada sebuah momen sejarah olah raga langka yang nyata.

Tags: