Chat with us, powered by LiveChat

ENGLAND MENGALAHKAN COLOMBIA

AgenSbobet – || BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 || – Akhirnya, pada pukul 11.52 pm waktu setempat, tendangan terakhir dari sebuah malam yang epic. Eric Dier, penendang adu pinalti kelima England sedang memulai dalam lari kemenangannya, yang dengan segera tenggelam di dalam kerumunan teman satu timnya. Gareth Southgate telah melupakan, dan lagi-lagi, dia seharusnya sedang dalam perawatan atas bahunya yang terkilir dan disinilah terdapat bukti kuat bahwa England, berlawanan dengan kesan yang mungkin telah mereka berikan untuk selama sekitar 30 tahun yang lalu ini, mereka ternyata memang tahu cara memenangkan adu pinalti.

Itu suasana sangat euphoria dan akhir yang mengguncang emosi dan ini adalah salah satu dari momen seperti itu, tentu saja, ketika para pengikut England bisa dimaafkan jika mereka memimpikan bahwa ada sesuatu yang spesial sedang dibangun, sesuatu yang mengagumkan dan langka. Benar, memang akan jadi berbahaya jika kita terlalu terbawa suasana namun di sini, saat ini juga, perduli amat dengan semua orang yang bersikeras bahwa ini adalah saat untuk menahan diri. England telah tiba di perempat final dan tiba-tiba Piala Dunia terisi dengan semua jenis kemungkinan dan kesempatan.

Ini adalah kemenangan pertama mereka dalam tahap knockout di dalam Piala Dunia untuk selama 12 tahun. Itu hanya milik mereka yang ke 7, di dalam turnamen besar apapun, sejak tahun 1966, dan sekarang mereka akan menghadapi Swedia pada hari Sabtu untuk kesempatan bermain dengan Russia atau Croatia di semi final.

Southgate telah memberi tahu kita bahwa dia para penendang pinalti milik England untuk “memiliki proses itu” dan mereka memang melakukan hal itu, pada akhirnya. Itu adalah sebuah kejadian yang sangat hampir, namun melesetnya Jordan Henderson – atau lebih tepatnya, penyelamatan oleh David Ospina – hanya berpengaruh sedikit pada akhirnya karena Mateus Uribe mengenai tiang gawang dengan usaha keempat Colombia dan Jordan Pickford menyelamatkan tendangan selanjutnya dari Carlos Bacca, memastikan Moscow 2018, akan diingat dengan lebih membahagiakan daripada TUrin pada tahun 1990, Saint Etienne 1998, dan tidak lupa juga Kejuaraan Eropa di Wembley pada tahun 1996; Lisbon 2004 dan Kiev 2012.

Dan sekitar satu jam setelah pertandingan, para suporter England masih berpesta di salah satu sisi stadium. Mereka tidak mau pulang dari sana, siapa yang bisa menyalahkan mereka ketika, setelah masing-masing tiga tendangan pinalti, England kalah satu angka dan menatap sebuah kisah de javu yang menyeramkan lagi?

Dier bergabung dengan Harry Kane, Marcus Rashford dan Kieran Trippier dalam menunjukkan kenapa mereka melakukan semua latihan pinalti di tempat latihan itu sangat diperlukan. Kane juga mencetak dari jarak 12 yard untuk memberikan England keunggulan tidak lama sebelum sejam itu dan itu tidak sampai pada menit ketiga waktu berhenti ketika Colombia memperpanjang pertandingan dengan menciptakan satu gol penyama kedudukan. Tim lain mungkin akan segera layu setelah sebuah penyama kedudukan yang menyakitkan di waktu akhir seperti itu. Itu, walaupun begitu, adalah salah satu bagian dari penampilan England yang lebih mengesankan. Dier mungkin sudah memenangkan pertandingan itu dengan sundulan gratis pada babak tambahan kedua. Danny Rose, pemain pengganti England yang lainnya lagi, mendapatkan sebuah kesepatan emas dan di dalam 30 menit tambahan itu sangat jarang terdapat satu momen yang terasa seperti para pemain Southgate akan berada di bawah.

Ini adalah hanya kemenangan kedua tendangan pinalti England dalam delapan usaha mereka pada turnamen besar, yang lain datang ketika melawan Spanyol di Euro 96, dan di dalam prosesnya mereka menjawab banyak sekali pertanyaan tentang emosi dan temperament mereka untuk peristiwa sebesar itu. Sejak dia mengambil pekerjaan itu, Southgate telah ditanyakan apakah tim dia bisa bertahan ketika suhu panas di pertempuran itu berada hampir tidak tertahankan. Kami tahu bahwa mereka, benar, mereka tahan. Walau begitu adu pinalti itu hanyalah sebagian dari kisha melawan musuh yang bandel dan tangguh – “para binatang” menurut komentar radio yang diucapkan oleh Chris Waddle di dalam siarannya – pada sebuah malam ketika para suporter Colombia memenuhi stadium dengan balutan warna kuning terang, melompat dan bergoyang seperti blancmange yang terbuat dari kawanan manusia dan membuat sebuah keributan yang nyaring.

Mereka meneriakan kata-kata dari lagu nasional mereka – Oh gloria inmarcesible – dan mengalahkan jumlah dari lawan Inggris mereka dengan sebuah cara yang jarang terlihat. Walau begitu coba pikirkan saja, untuk contohnya, keberanian kompetitif dari Kane ketika dia mendapatkan pinalti pertamanya dan para pemain Colombia, untuk kasarnya, kehilangan jalur tentang keputusan untuk menghukum Carlos Sanchez karena menahan dirinya hingga jatuh di sudut lapangan. Protes juga sangat kacau hingga pinalti Kane ditunda hampir selama empat menit. Emosi yang besar yang ditunjukkan oleh sang kapten untuk menaikkan posisinya di tempat teratas daftar skor penghargaan Golden Boot – gol ke 6 nya dan pinalti ke tiga miliknya.

Colombia mungkin telah kehilangan James Rodriguez yang sedang cidera namun mereka masih menempati tempat yang superior di dalam tangga persepak bolaaan melawan Tunisa atau Panama atau sisa dari Belgium XI yang ditemui oleh England di tahap grup. Namun tim milik Southgate tidak pernah menyerah. Sang manajer telah mengarahkan mereka untuk bermain dengan kebebasan, untuk menunjukkan rasa petualang, untuk membusungkan dada mereka dan menampilkan bahwa mereka tahu bagaimana caranya mengurus sepak bola juga. Memang benar, mereka menemukan bahwa itu cukup sulit untuk masuk ke kebelakang pertahanan Colombia dan terlihat lebih berbahaya dari posisi tendangan bebas daripada permainan terbuka, Walau begitu lawan mereka hampir sama sekali tidak menyulitkan Pickford sepanjang 90 menit itu dan hal itu sendiri terasa seperti sebuah pencapaian melawan pihak yang menampilkan Radamel Falcao, Juan Cuadrado dan Juan Quintero.

Malam itu mungkin bisa jadi lebih jelas secara langsung jika keputusan yang benar telah diambil, pada waktu akhir di paruh waktu pertama, ketika Wilmar Barrios mengambil pengecualian pada jarak Jordan Henderson ke tembok pertahanan dan menghadapi pembalasan dengan mengangkat kepalanya ke arah rahang musuhnya itu. Henderson berakhir terbaring di rumput dan Barrios cukup beruntuk untuk bisa pergi dari kejadian itu hanya dengan kartu kuning dimana dia sebenarnya bisa menyalami tangan para ofisial pada paruh waktu itu.

Keributan yang terjadi sebelum pinalti Kane adalah mengejutkan pada sisi yang lain namun Southgate telah mengatakan pada para pemainnya untuk tidak bereaksi terhadap provokasi itu dan, mengenai hal tersebut, pertandingan melawan Panama adalah pelajaran yang berharga.

Colombia masih memiliki waktu lebih dari setengah jam di dalam permainan normal, ditambah lima menit waktu tambahan, untuk menciptakan sebuah penyama kedudukan. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu itu untuk berdebat dengan sang wasit, memalsukan cidera dan mencoba untuk memulai sebuah pertengkaran. Namun kemudian, pada waktu menit ke 93 sang pemain pengganti Uribe melayangkan bola dengan tendangan jarak jauh pada jarak 30 yard. Penyelamatan terbang oleh Pickford sangat mengesankan namun itu adalah Yerry Mina melawan Harry Meguire pada saat tendangan sudut yang terjadi karena itu: Pemain tertinggi milik Colombia melawan pemain tertinggi milik England. Pria yang mengenakan warna kuning memenangkan sundulan itu, bola memantul di lapangan dan Tippier tidak memiliki cukup tinggi untuk menghentikannya tepat di garis.

Apakah itu akan menjadi kisah klasik yang sama untuk England lagi? Itu terasa seperti itu setelah Falcao, Cuadrado dan Luis Muriel mencetak tiga pinalti pertama Colombia pada saat adu pinalti tersebut. Malahan, Pickford memiliki peran heroik pada kemenangan itu. Pinalti Dier tidak benar-benar meyakinkan namun Ospina sedang menghadap kebawah, merasa kecewa, dan perjalanan menuju kemenangan sedang berjalan.