ENGLAND BERSIAP HADAPI KENYATAAN

AGEN SBOBET -|| BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 ||- Ini adalah waktunya memainkan musik. Ini adalah waktunya untuk menyalakan lampu. Ini adalah waktunya untuk bertemu dengan 55 anggota Nations League perdana Uefa ketika diluncurkan kedalam empat subset yang berbasis koefisien.

Benar, itu akhirnya tiba juga. Format terbaru sepak bola England masuk kedalam gigi pada minggu ini, dengan semi finalis Piala Dunia England berhadapan juga datang Spanyol pada hari Sabtu di dalam sebuah pertandingan pertama setelah turnamen yang tidak biasa yang terlihat lezat.

Belum ada yang tahu hal ini akan terasa seperti apa. Kabar baiknya adalah, di sana akan ada upacara, music dan rasa kemegahan dari ersatz. Di sana bahkan ada sebuah lagu resmi Uefa Nations League yang akan dimainkan setiap sebelum pertandingan dan memang ditujukan untuk “menangkap sebuah rasa dari sebuah kompetisi yang sangat penting”. Lagu tersebut memiliki sebuah judul yang sangat menyampaikan rasa ini dari sebuah event olah raga yang megah. Lagu itu berjudul ‘The Uefa Nations League Anthem’.

Lagu itu juga cukup bagus, dengan sebuah bagian reff paduan suara yang berapi-api yang membuat itu terdengar seperti sebuah gabungan antara sebuah iklan untuk pisau cukur dan musik insidental dari sebuah adegan film horor dimana seorang anak iblis menikam seorang pendeta dengan penggaruk taman. Bagian favorit Saya datang pada saat terakhir dimana ketika paduan suaranya bernyati “the Nation’s LeeeAGUE”, kemudian berhenti ke diam. Pada akhirnya Saya menyadari ini karena itu terdengar seperti nada akhir dari judul kredit pada Knowing Me, Knowing You dengan Alan Patridge. Dan iya Saya bisa mengkonfirmasi bahwa lagu The Uefa Nations League Anthem akan sangat meningkat jika berteriak “Ah-ha” pada bagian akhirnya.

Format yang baru itu sangat masuk akal, sebuah cara untuk menggabungkan bersama ceceran pertandingan persahabatan yang dulunya mengisi waktu istirahat internasional. Panggung akhir itu akan menambah sebuah catatan ketegangan yang digarap pada waktu musim panas yang lebih seperti bebas sepak bola pada tahun 2019. Yang paling baik dari semua itu, itu meluncurkan England lurus kembali ke dalam pemainan layak melawan lawan yang berkelas tinggi, jenis lawan yang dimana, untuk semua engahan dan histeria itu, yang telah membuat mereka kesulitan di dalam Piala Dunia.

Untuk semua kredit yang telah terkumpul, di sana terdapat derajat tekanan di sini dalam melakukannya kembali pada waktu yang sangat dekat. Atau jika bukan sebuah tekanan, maka kemudian sebuah kesempatan untuk melihat kembali, untuk menemukan kenyataan dibalik rasa semangat pada musim panas ini. Anda pasti mengingatnya, benar bukan? Periode waktu itu yang tidak terlalu lama ketika matahari menyengat permukaan bumi, ketika bir jatuh dari langit seperti hujan hangat dan ketika semua orang tenggelam di dalam sepak bola, menyanyikan lagu-lagu lama dan berpura-pura dunia sedang tidak hancur berkeping-keping oleh getaran di Maidstone high street mengenakan hanya sebuah atasan Y dan sebuah mantel, terkadang berhenti sejenak untuk melekatkan emoji tertawa hingga berlinang air mata pada sebuah meme Hitler di dalam bunkernya yang mengkhawatirkan soal pemberian bola mati oleh Kieran Trippier.

England telah mengesankan dan disukai di Russia, sebuah tim yang untuk sekali terlihat lebih dari jumlah bagian mereka. Tapi waktu itu telah berlalu. Hal telah selesai. Itu mungkin sebuah waktu yang tepat untuk menanyakan sebuah pertanyaan: apakah itu hanya sebah moment indah yang hanya dimiliki kita saja? Apakah hal itu berkelanjutan? Lebih ke titik utamanya, apakah hal tersebut cukup bagus?

Minggu ini, Jordan Henderson mengatakan bahwa dia menyampaikan satu maksudnya dari melihat lagi kekalahan Croatia secara keseluruhan pada saat musim panas. Dia mengatakan bahwa itu adalah sebuah pengalaman yang cukup berat dan menyakitkan. Dia juga benar. Anda tidak harus telah bermain di dalamnya. Saya juga waktu itu menyaksikan pertandingan itu. Dihadapkan dengan sebuah tim yang sedikit lebih baik, England memiliki dua tembakan pada target dalam waktu 120 menit. Dari 15 menit kedalam mereka selalu mengejar, tidak bisa merespon ketika bagian tengah lapangan direbut keluar. Tidak perlu malu soal itu, tentu saja. Luka Modric memang tidak bisa ditahan di Russia, menyebarkan vodoo personalnya disepanjang area tengah lapangan dari Kazan hingga ke Moscow. Tapi itu adalah bagian dari sebuah pola. England memainkan tujuh permainan di dalam Piala Dunia, kalah dalam tiga, menang dalam tiga dan seri dalam satu. Pertandingan yang mereka kalah adalah melawan tim internasional tingkat pertama. Tim yang mereka kalahkan adalah berada di peringkat ke 12, ke 24 dan ke 69 di dunia.

Tidak ada satupun dari ini yang merupakan sebuah kritik, hanya sebuah pernyataan dari beberapa kenyataan. Ini adalah sebuah tim England yang sangat diatur dengan baik, dengan kesadaran akan kelemahan mereka sendiri dans ebuah komitmen untuk mempertajam kekuatan mereka yang terbatas. England telah menjalani lima jam tanpa skor dari permainan terbuka, bagian terbaik dari itu adalah dimana hal ini ini merupakan, dalam pengaruh, bagian dari rencana permainannya. Semua tim yang terbaik, dan sudah pasti adalah tim England yang terbaik, biasanya akan menang seperti ini, seperti yang sudah dikatakan pada hitungan Southgate pada dirinya.

Dan walau begitu, itu sulit untuk menghindari perasaan bahwa semi final itu adalah sejenis seekor chimera, pada soal memeras yang terakhir dari semua sumber daya yang Anda miliki, namun bukan sebuah bukti dari kesehatan bagus yang lebih luas. Di sana terdapat sesuatu yang mengkhawatirkan soal tipisnya skuad saat itu yang habis karena cidera. Sebuah kenyataan yang aneh: jika Southgate kehilangan Kyle Walker juga ini akan menjadi pertandingan setelah Piala Dunia atau setelah pemilihan Euro pertama di dalam 68 tahun sejarah England yang tidak memiliki satu pemain di dalam barisannya yang telah memulai secara reguluer di dalam sebuah tim pemenang gelar liga itu.

England memiliki empat penjaga gawang, tiga striker dan satu pemain gelandang tengah yang asli, karena pada dasarnya itulah yang memang ada di sana. Para pemain yang telah dipilih oleh Southgate muncul di dalam gabungan 58% dari kemungkinan pertandingan Liga Premier pada musim ini. Phil Foden, yang mungkin atau mungkin tidak menjadi sesuatu yang memang mereka butuhkan, telah bermain selama 8 menit. Bahkan di dalam pandangan Gareth sendiri pada selama musim panas, di luar sana di pinggir garis terlihat kesakitan dan layak, seperti sebuah hantu pahlawan perang sipil Amerika, terlihat sedikit seperti ilusi dan nostalgia, sebuah penampilan dari kekuatan yang lebih lembut dan lebih baik sedang bekerja.

Tantangannya sekarang adalah untuk mempertahankan tingkat tersebut, untuk mengembangkan tim yang pada dasarnya masih bertarung dengan lingkungan mereka sendiri; dan dimana yang akan memerlukan diatas semuanya, sedikit kesabaran setelah pelarian diri yang mewah pada musim panas yang lalu.

Tags: