Chat with us, powered by LiveChat

API ENGLAND DI NYALAKAN GARETH SOUTHGATE

SBOBET INDONESIA – || BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 || – Impian berakhir dengan hancur berkeping-keping untuk England di Moscow ada hari Rabu ketika penampilan pertama pertandingan semi final Piala Dunia mereka untuk selama 28 tahun berakhir dengan kekalahan melawan Croatia. Tidak seperti Italia 90, ketika England terakhir kali mencapai tahap ini di dalam turnamen tersebut, para mayarakat publik yang menyaksikan dan 10 ribu fans England yang berada di dalam stadium Luzhniki telah terhindarkan dari siksaan adu pinalti.

Pemain depan Croatia Marioa Mandzukic memberikan pukulan fatal itu setelah 109 menit yang sangat melelahkan. Para pemain yang gembira sekali berlari kencang untuk merayakan kemenangan dengan skor 2-1 mereka di depan para suporter mereka, sedangkan tubuh England yang telah hancur jatuh di atas rumput lapangan itu. Sang manajer Gareth Southgate memasuki lapangan dengan usaha untuk menghibur mereka namun di sana hanya terdapat sedkit yang bisa dia katakan untuk meringankan pukulan yang diterima pihak miliknya yang telah memimpin pertandingan itu selama waktu lebih dari satu jam yang mengikuti setelah gol lima menit pada awal pertandingan.

Pemain belakang Harry Maguire, yang telah menjadi salah satu dari pemain bintang milik England, memegang pelindung kaki ke depan wajahnya dan melihat ke kejauhan dengan sedih, sedangkan Marcus Rashford dan Jesse Lingard terisak-isak. Bersama dengan Southgate dan tim pendukung yang cukup besar, skuad yang berjumlah 23 orang itu memberikan tepuk tangan kepada fans yang telah bepergian yang tetap berada di dalam posisi mereka hingga lama setelah peluit terakhir berbunyi.

“Reaksi yang ditunjukkan para fans setelah pertandingan itu berakhir menunjukkan semua yang telah mereka berikan pada kami,” ujar Southgate. “Kami telah melakukan perjalanan dengan jarak yang cukup jauh di dalam waktu yang cukup singkat. Seluruh peristiwa ini sangat jauh dari apa yang kami pikir akan kami lakukan. Malam ini kami belum berada cukup sampai di sana. Namun tim ini akan lebih kuat untuk karena itu.”

Mereka sekarang akan kembali ke markas latihan mereka di Repino, sebuah resort peristirahatan yang terletak di teluk negara Finland, untuk mempersiapkan pertandingan play off posisi ketiga melawan Belgium di St Petersburg pada hari Sabtu. Mereka benar-benar ingin kembali ke dalam stadium Luzhniki yang berkapasitas tempat duduk 80 ribu orang pada hari Minggu untuk bertanding dengan Perancis di final, namun itu sekarang adalah kesempatan yang dimiliki oleh Croatia.

“Sepak Bola Pulang Kerumah” telah menjadi semboyan pada musim panas 2018 ini, namun, pada saat peluit akhir pertandingan, di sana terdapat sebuah penerimaan bahwa hal itu bukanlah seperti yang disemboyankan, setidaknya bukan untuk yang kali ini.

“Di sana terdapat banyak hal yang seharusnya bisa kami lakukan lebih baik, namun mereka sudah bermain cukup baik,” ujar sang kapten, Harry Kane. “Itu sudah cukup hebat untuk bisa mencapai pada tahap ini, namun kami ingin tetap bisa melanjutkan dan memenangkannya. Ini hanya terasa menyakitkan. Kami harus merapikan dan membersihkan diri kami dan mencoba kembali pada beberapa tahun kedepan.”

Hanya tiga dari para pemain di 11 pemain utama milik England yang masih hidup pada terakhir kali England berada di pertandingan semi final Piala Dunia di Italia 90 dan Ashley Young adalah yang tertua diantara mereka semua, ketika berusia 4 tahun, keitka Kyle Walker dan Jordan Henderson masih berusia kurang dari beberapa bulan.

Mereka tidak tampak terhambat oleh emosi, memimpin sebuah pertandingan semi final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak tahun 1966, ketika Kieran Trippier, seorang anak laki-laki dari Bury yang bersinar pada sepanjang turnamen itu, mencetak angka dari sebuah tendangan bebas. Pria berusia 27 tahun itu yang bergabung hanya bersama Gary Lineker dan Bobby Charlton sebagai pencetak angka semi final Inggris ketika tendangannya melesat melewati penjaga gawang Croatia Danijel Subasic. Ketika lagu “the Three Lions” (Sepak Bola Pulang Kerumah/ ‘Football’s Coming Home’) dikumandangkan dari pengeras suara di dalam stadium, para pemain saling bertumpukan satu sama lain di sisi jauh di dalam lapangan.

England telah ditinggalkan untuk menyesali kesempatan yang terlewatkan untuk menggandakan keunggulan mereka pada paruh waktu pertama yang mereka dominasi, khususnya pada saat Harry Kane yang kurang fit gagal untuk mengenai target di sana dan pemain gelandang Manchester United, Jesse Lingard dengan lemah menyenggol bola melebar keluar dari arah gawang.

Pelatih Croatia, Zlatko Dalic terlihat untuk bisa menghidupkan kembali pihaknya dengan sebuah pidato tim yang memberi semangat pada saat waktu istirahat dan Ivan Perisic mendapatkan sebuah pembobolan pada menit ke 68, melesatkan timbakannya melewati Jordan Pickford dengan kaki tinggi. Itu membangunkan rombongan suporter yang berada di belakang gawang England dan tiba-tiba volume suara mereka bisa menyaingi pihak England yang berada di sisi yang sebaliknya.

England terlihat kacau, seorang petinju yang bersandar pada tali ring, berdoa supaya bel berbunyi. Sebelu waktu tambahan, Southgate dan para pemainnya saling berangkulan, meminta mereka untuk menarik nafas dalam dan menekan tombol reset. John Stones, yang telah berada di dalam pertahan sekuat gunung sepanjang perjuangan mereka itu, hampir mencetak angka dengan sebuah sundulan pada menit ke 99 untuk melegakan emosi dari jutaan orang namun sundulan itu telah ditepis menjauh dari gawang.

Southgate berkata mereka mungkin akan mengambil sisi positif dari turnamen ini. “Negara ini telah sangat bangga dengan apa yang sudah mereka lakukan,” ujar dia. “Di sana nanti, pada waktunya, akan terdapat banyak sisi positif untuk diambil. Itu sulit untuk meletakkannya ke dalam konteks saat ini, dan juga masih sedikit terlalu cepat. Anda harus menerima penderitaan hasilnya sebentar. Itu terkadang terlalu udah untuk terlalu cepat bergerak maju. Namun Saya sangat bangga sekali dengan apa yang sudah mereka lakukan.”

Di sana ada sebuah rasa di antara para suporter bahwa hasil ini tidak akan mengubah kebanggan yang sebagian besar dirasakan untuk sang manajer dan tim tersebut. Sebuah inti dari sekiter 1.500 fans England telah selalu ada di dalam semua enam pertandingan. Dari kota bersejarah di Volgograd, yang sebelumnya Stalingard, dimana England mengalahkan Tunisia atas berkat sundulan kepala pada saat waktu berhenti oleh Harry Kane. Hingga ke Nizhny Nivgorod, dimana dua sungai Volga dan Oka bertemu dan England mendapatkan kemenangan terbesar yang pernah mereka dapatkan, mengalahkan Panama dengan skor 6-1. Hingga di pos luar di Kaliningrad dimana kesempatan keuda Engladn telah dikalahkan oleh Belgium di dalam apa yang secara efektif adalah sebuah pertandingan yang tidak berarti. Hingga ke Moscow untuk ronde pertama pertandingan knockout dan satu-satunya kemenangan adu pinalti Piala Dunia milik England untuk mengalahkan Colombia. Kemudian mereka terbang melewati Swedia di bawah suhu panas yang lengket di Samara di bagian Selatan.

“Mereka telah menghancurkan banyak batasan,” ujar Southgate.

Perjuangan tak terduga mereka ke semi final menghasilkan pertambahan yang dapat ditandai dalam jumlah suporter yang ada dan Kementrian Bidang Komunikasi Russia mengatakan bahwa jumlah peminta dokumen yang berasal dari Britain untuk dokumen identitas fans Piala Dunia telah meningkat melewati angka 29%, atau sebanyak 6.300 pemohon, sejak tanggal 7 Juli.

Itu bukan sebuah hiperbola untuk menyatakan bahwa mereka secara sejenak telah menyatukan sebuah negara yang berada dalam kondisi pertikaian. Bahkan beberapa dari negara tuan rumah lainnya juga mendukung mereka. Jon Meldrum, seorang pemilik taman caravan dari North Wales, bepergian ke Moscow dengan sahabatnya Tony Dearden, seorang pria Inggris yang bekerja pada pemasangan pondasi di Cheshire. Diluar Cathedral Saint Basil yang penuh warna sebelum pertandingan, mereka berpose untuk berfoto bersama, sambil memegang bendera wales di antara mereka. Jon, mengenakan kaus sepak bola red Wales miliknya, mengatakan: “Kami tidak masuk kedalam Piala Dunia dan pilihan kami selanjutnya yang paling dekat adalah UK. Kami pergi berperang sebagai salah satu dari mereka, ketika kami bertempur di Iraq dan Afghanistan kami bertempur bersama. Saya tidak melihat kenapa kami tidak bisa saling mendukung satu sama lain di dalam sepak bola.”

Di dalam stasiun Vorobyoby, salah satu stasiun yang paling dekat dengan Luzhniki, fans membentangakan sebuah poster super besar bergambar Bobby Moore sedang memegang trofi dengan tinggi pada tahun 1966. England masih harus menunggu selama empat tahun lagi untuk kesempatan bisa mengulangi peristiwa kejayaan itu lagi.

Tags: