Chat with us, powered by LiveChat

AGEN SBOBET – AWAN MENDUNG YANG MENDATANGI PIALA DUNIA INI

AGEN SBOBET – || BBM : Bigbet99 | WA : +6282311818925 || – Ada sebuah waktu dimana kita biasanya akan tertawa kepada sifat antik yang dilakukan oleh negara Amerika Selatan, atau permainan drama yang muncul di dalam La Liga, bertanya-tanya bagaimana para suporter bisa mempersiapkan semua permainan akting itu, namun semuanya sedang melakukan itu saat ini, termasuk juga – dan marilah kita tidak menyangkal diri sendiri – para pemain England. “Shithousery” adalah kata yang sering mengikuti mengelili hari-hari ini.

Yang lain akan mengenal hal itu secara sederhana sebagai kecurangan dan, sayangnya, itu adalah salah satu awan mendung yang berada di atas Piala Dunia yang sebenarnya sangat brilian di Russia.

Banyak dari orang akan melihat beberapa klip humor dari Neymar di media sosial, memperlihatkan dirinya menggelinding melewati jalan raya dan pegunungan dan sepanjang jalan di pedesaan, mengikuti peristiwa menggelinding yang dibesar-besarkan ketika melawan Serbia. Walau begitu sang pemain Brazil itu jauh dari sendirian ketika itu sial memalsukan cidera dan mencoba menipu para ofisial.

Bermain akting sudah menjadi sebuah kebiasaan di Piala Dunia ini. Itu telah menjadi sebuah kanker di dalam permainan itu, bukan hanya menjadi noda di dalamnya, dan Fifa harus segera menemukan obat untuk itu. Entah apakah ketua sepak bola dunia secara langsung menghadapi hal itu, dengan memperkenalkan pinalti yang lebih ketat dan mendorong para wasit untuk mengadopsi pendekatan tanpa toleransi, atau kita menyerahkan kontrol kepada para pemain dan mengundurkan diri kita pada fakta bahwa “shithousery” saat ini sudah merupakan “bagian dan satu parsel dari permainan itu”. Sebuah pemikiran yang sangat depresi.

Yang sudah jelas saat ini adalah itu karena para pemainnya, bukan para ofisial, yang berada dalam kendali. Itu pada satu waktu adalah persaingan bebas untuk semua di dalam pemandangan buruk yang lewat sebagai sebuah pertandingan knockout Piala Dunia antara England melawan Colombia, pada khususnya jumlah waktu yang sangat banyaknya hingga konyol – hingga mencapai selama empat menit – antara Mark Geiger, sang wasit, sedang menghukum Carlos Sanchez untuk apa yang sebenarnya sebuah hukuman mutlak pinalti dan Harry Kane, menunjukkan mental dari baja, untuk mengubah dari titik itu.

Setengah lusin pemain Colombia mengepung Geiger, sama seperti para bully sedang mengganggu anak paling lemah di sekolahan. Disana sama sekali tidak terdapat rasa hormat bagi sang wasit, dan ingat saja bahwa Sanchez, bertarik-tarikan dengan Kane di dalam area dimana disekitarnya tidak terdapat bola di dekatnya, telah terbentur dengan haknya. Mungkin saja Geiger seharusnya lebih kuat dan menyingkirkan sekumpulan para pemain Colombia tersebut, satu demi satu. “Tidak mengerti kenapa para wasit harus menghadapi dengan pelecehan tepat di depan wajahnya seperti itu,” tulis Gary Lineker di twitternya. “Beri saja mereka kartu kuning dan hentikan semua omong kosong itu.”

Kenapa wasit tidak melakukan hal itu? Jika para pemain tahu bahwa berhati-hati adalah respon wajib untuk tidak mencela para ofisial, kemudian kejadian yang tidak bisa diterima yang terjadi di Moscow pada hari Selasa itu, atau apda akhir pertandingan Portugal v Uruguay pada pertandingan 16 besar di hari Sabtu, ketika Ricardo Quaresma berhadapan hidung antar hidung dengan sang wasit asal Meksiko dan Cristiano Ronaldo berteriak ke arah wajahnya, pasti akan menghilang. Jika hal tersebut tidak terjadi, maka beberapa pemain mungkin adalah otak udang yang lebih parah daripada yang kita duga.

Sedangkan untuk bermain akting, itu seharusnya sudah benar berada di atas agenda milik Fifa. Simulasi adalah bukan hal yang baru – gambarkan Rivaldo sedang memegangi wajahnya pada tahun 2002 setelah bola mengenai dirinya di kaki, atau Jurgen Klinsmann melemparkan dirinya ke udara pada tahun 1990 pada final Piala Dunia. Walau begitu, sayangnya, itu rasanya kita telah jatuh ke kedalaman yang baru di Russia.

Kita semua bisa menggelengkan kepala ke arah Pepe ketika dia dengan memalukan jatuh ke tanah setelah Mehdi Benatia dari Morocco menepuk dirinya di pundaknya, namun pada realitanya itu bahwa pemain Internasional Portugal hanyalah seorang badut di panggung sirkus yang lebih besar. Colombia, sudah pasti, adalah sebuah hal memalukan pada saat ketika melawan England, tidak dapat dikenali dari sebuah tim yang dulunya menerangi kejuaraan Piala Dunia pada empat tahun yang lalu.

Namun lepaskan sejenak baju bergambar tiga singa milik Anda, lepaskan sejenak bendera union jack Anda, tontonlah pertandingan itu lagi dan para pemain England bukanlah malaikat. Jordan Henderson dan Harry Maguire (dan, benar, sang pemain bek Leicester memang setidaknya mengangkat tangannya setelah di jatuh terguling) adalah salah satu diantara kontak yang dibesar-besarkan atau dipalsukan itu.

Gareth Southgate ditanyakan soal perbuatan England setelah itu oleh seorang jurnalis dari Russia, yang menyarankan kepada dirinya bahwa generasi para pemain saat ini, tidak seperti tim yang diatur oleh sang manajer tersebut pada tahun 90an, “jatuh ketanah setiap kali ada angin bertiup”. Southgate, seorang pria yang penuh harga diri berkerja di dalam permainan yang tidak memiliki harga diri, membalas: “Mungkin kami sedang menjadi lebih pintar. Mungkin kami sekarang sedang bermain menurut dengan peraturan yang diikuti oleh seluruh dunia. Saya pikir di sana terdapat banyak, banyak sekali pelanggaran yang terjadi di dalam pertandingan dan Saya tidak merasa kami telah melakukan bahkan hampir dengan jumlah yang sama dibandingkan dengan lawan kami. Jika kami terjatuh, itu pasti karena kami yang dilakukan pelanggaran.”

Tidak menghiraukan komentar terakhir itu, yang dimana harus dikatakan oleh Southgate kerena keadaan saat itu, sang manajer England itu sedang sangat jujur. Ini sekarang adalah sebuah permainan dimana semuanya boleh, dimana menyempurnakan ilmu hitam itu sama dengan memiliki kemampuan untuk melakukan umpan satu dua yang indah, dan dimana kecurangan diperbolehkan karena dianggap sebagai ilmu jalanan. Seperti yang dikatakan oleh Southgate secara ringkas: “Kami sekarang sedang bermain menurut peraturan yang diikuti oleh seluruh dunia.”

Jika mau jujur saja, itu terkadang menurun kedalam permainan yang tidak beraturan penuh kecurangan. Dan, jujur saja, siapa yang bisa menyalahkan England untuk ikut membuat tangan mereka kotor dan mengambil pandangan bahwa pada ronde yang selanjutnya adalah tempat yang lebih baik untuk menjadi lebih tinggi daripada batasan moral. Jika Anda tidak bisa mengalahkan mereka, bergabung saja dengan mereka.

Apa yang juga semakin menjadi lebih jelas adalah sekarang di sana terdapat banyak pemain – Pepe, Sergio Ramos dan Neymar langsung muncul di dalam bayangan – yang tidak perduli sama sekali bahwa kecurangan yang mereka lakukan itu disaksikan oleh jutaan orang di seluruh dunia, dianalisa di studio televisi oleh para mantan pemain internasional, dan disorot dan ditertawakan di dalam media sosial.

Untuk lebih jelasnya, itu bukan soal para pemain tersebut sebagai model panutan – itu lebih kepada pekerjaan bagi para orang tua, bukan para pesepak bola. Namun apakah para pemain ini tidak memiliki harga diri pribadi masing-masing, atau memiliki sedikit rasa malu di dalam diri mereka, dalam soal bagaimana mereka meperlakukan diri mereka ketika berada di lapangan?

Rekaman yang sama itu – dan juga yang lainnya – juga sedang ditonton oleh ke 14 anggota ofisial yang memiliki akses kepada 33 kamera dari dalam ruang kontrol di Moscow, dimana mereka sedang melakukan tugas peran sebagai Video Assistant Referee (VAR) – dan Anda juga mungkin bisa melihat kemana arah jalan pemikiran ini menuju. Apakah disana tidak terdapat sebuah titik dimana ketika satu-satunya cara untuk mengurangi kecurangan yang mencolok adalah dengan memperluas hingga ke teknologi video hanya untuk menyimpang supaya membenarkan “kesalahan yang jelas terlihat” di dalam “situasi yang bisa mengubah pertandingan” dan ikut campur mengatasi kejadian bermain akting juga?

Kesulitan yang ada, tentu saja, adalah menggambarkan beberapa dari insiden tersebtu – apakah pada saat atau bahkan secara retrospektif di hari yang selanjutnya – bisa menjadi sangat subjektif dan disana ada beberapa kejadian ketika hanya sang pemain yang tahu apakah mereka sedang berpura-pura atau tidak.

Mau bagaimanapun, sesuatu harus segera dilakukan. Fifa, bisa dengan setidaknyam harus menunjukkan sebuah determinasi untuk menghadapi penyakit tersebut. Ofisial harus menjadi lebih kuat. Dan di sini adalah sebuah pemikiran yang revolusioner: bagaimana jika para pemain juga mengambil sedikit tanggung jawab atas perbuatan yang mereka lakukan itu.

Tags: